Showing posts with label Anindita W. Putri. Show all posts
Showing posts with label Anindita W. Putri. Show all posts

Saturday, 5 November 2011

Dari Labsky untuk Indonesia, Seni semster 6

Perspektif adalah sebuah dasar pendidikan seni dan besar, artinya untuk lingkup penggunaan yang sangat luas seperti arsitek, teknik mesin, dan desainer. Perspektif adalah suatu sistem matematikal untuk memprroyeksikan bidang tiga dimensional ke dalam nidang dua dimensional, seperti kertas atau kanvas.

Semua sistem perspektif berpangkal pada dua metode dasar, yaitu gambar bebas tangan (free hand) dan gambar terukur. Gambar perspektif terukur dipakai untuk mengartikan suatu bentuk benda atau objek dengan akurat. Untuk metode ini dipergunakan alat-alat gambar, dan skala-skala ukuran diambil langsung dari gambar rencana. Gambar bebas tangan dipakai untuk memberikan penjelasan (detail) sebuah gambar. Kedudukan-kedudukan objek didapat dari suatu kombinasi kerja tebak (sistem kira-kira) dan konstruksi dengan perkiraan yang hampir tepat. Di sini tidak dibutuhkan ukuran yang pasti dan tepat.


1. Perspektif Satu Titik Hilang
Perspektif satu titik hilang merupakan cara menggambar perspektif yang paling mudah, karena keseluruhan objek pada bidang gambar dapat diukur dengan skala. Walaupun cara ini yang termudah, gambar perspektif satu titik hilang dapat terlihat alami namun juga sangat mudah terdistorsi.




Konstruksi perspektif satu titik hilang didasari oleh kenyataan bahwa garis vertikal digambarkan secara vertikal, garis horisontal digambarkan secara horisontal, dan hanya garis-garis yang menunjukkan kedalaman perspektif yang bertemu pada satu titik hilang (kecuali garis-garis melintang yang memiliki sudut selain 0o dan 90o terhadap garis normal/cakrawala).

2. Perspektif Dua Titik Hilang
Perspektif dua titik hilang menggambarkan objek dengan menggunakan dua titik hilang yang terletak berjauhan di sebelah kanan dan kiri pada garis cakrawala. Perspektif dua titik hilang memberikan kesempatan untuk menggambarkan sudut terdekat atau terjauh dari sebuah objek atau ruangan. Dalam perspektif dua titik hilang, sudut ruangan atau tepi sebuah objek digambar terlebih dahulu dan dapat digunakan sebagai skala secara horisontal dan vertikal, untuk kemudian ditarik garis dari titik hilang.
Seperti dalam perspektif satu titik hilang, garis cakrawala digambarkan secara horisontal dan ditentukan oleh tinggi mata pengamat. Berbeda dari garis cakrawala dan elemen-elemen yang terletak di garis cakrawala, tidak ada garis horisontal yang ditemukan pada perspektif dua titik hilang – kecuali pada objek-objek yang memiliki kemiringan 45o, semua garis yang secara nyata terlihat sejajar horisontal akan terlihat miring menuju ke dua titik hilang.

3. Perspektif Tiga Titik Hilang
Perspektif tiga titik hilang sangat tidak biasa untuk digunakan pada ilustrasi atau presentasi desain interior. Secara umum, perspektif tiga titik hilang terbentuk dari dua titik hilang yang terletak di garis cakrawala dan satu titik hilang tambahan yang terletak di atas atau di bawah garis cakrawala, segaris lurus secara vertikal dengan titik diagonal, sehingga bila ditarik garis berurutan dari ketiga titik hilang tersebut akan membentuk segitiga sama sisi, yaitu segitiga yang memiliki sudut yang sama, yaitu 60o.
Perspektif tiga titik hilang biasanya digunakan pada benda-benda arsitektural yang berukuran sangat besar, seperti gedung-gedung bertingkat. Hasil yang ditampilkan perspektif tiga titik hilang biasa disebut ‘penglihatan mata burung’ bila titik hilang berada di bawah garis cakrawala, dan ‘penglihatan mata semut’ atau ‘penglihatan mata kodok’ bila titik hilang berada di atas garis cakrawala.


Tuesday, 25 October 2011

Me and Wayang Kulit


Wayang theatre is considered to be a highlight of Javanese culture.   Over the centuries its religious character has increasingly developed into a distinct art form; foreign influences introduced new stories, characters were added, and new refined styles were developed at the courts. There are various types of wayang, but, in Java, the most important is the wayang purwa, which uses kulit(flat cut-outs of painted leather puppets) whose shadows are projected on a large white screen.Wayang purwa makes use of the purwa repertoire: the oldest stories about cosmic events and divine will are represented; the course of events is seen as being predestined, part of a cosmic law. The Javanese word purwa means ‘beginning’ or ‘first’ and derives, probably, from the Sanskrit parwan, a word used to denote the chapter of the Mahabharata.

Wayang is clearly of Javanese origin with animistic features. Originally it was not individuals who were depicted on stage but legendary beings. These mythical figures, represented by the most important puppets, were used to explain the relationship between heaven and the human society; and the origin and the structure of the world. The introduction of narratives, such as the Indian epics, increased the number of puppets and brought more individuality to the characters.  The wayang is part of the religious complex constructed around the concepts of aulus-kasar, lair-batin and rasa. Aulus means pure, refined, polished, exquisite, ethereal, subtle, civilized, smooth. Kasar is merely the opposite: impolite; rough; uncivilized. Lair means «the outer realm of human behaviour»; batin «the inner realm of inner experience.»
Rasa has two primary meanings: ‘feeling’ and ‘meaning’. As ‘feeling’ indicates both feeling from without (taste, touch) and from within (emotional); as ‘meaning’ indicates the implicit import, the connotative ‘feeling’ of dance movements, polite gesture and so forth.

Traditionally a performance last an entire night, starts soon after sunset with an overture (talu) ofgamelan music and continues without a break until dawn. The making of shadow puppets is a long and painstaking process. Skin of a female buffalo of about four years of age, the ideal type for texture and strength, is dried, scraped and cured for up to ten years to achieve stiffness and eliminate warping and splitting. On maturity, skin are carved and pierced to fashion the required character. This technique involves extensive knowledge of iconography and physiognomy, since all lines – angles of the head, slant of the eyes and mouth, profile of the body – are specific to the the character. When carving is completed, the traditional pigments including powdered burnt bone for white, lampblack, indigo, yellow ochre and cinnabar for red in a gelatinous medium mixed from dried egg-white. Gold leaf and pigment are applied in a medium of protein glue derived from fish bones. The cempurit, or manipulating rods, are made of buffalo horn, while the studs attaching the jointed arms to the torso are of metal (sometimes gold), bone, bamboo or, in rare courtly examples, gold studded with diamond.

In a wayang kulit performance the shadow of the puppets are cast on to a white fabric screen (kelir) in a wooden frame. The puppets are fastened to a tortoise-shell stick, running from head to below their feet, at which point the dalang grasps the stick as a sort of handle. The arms, the only movable parts, have the cempurit – short sticks attached to them – which the dalang holds in the same hand and manipulates with his fingers. He holds the puppets up in either hand over his head and interposes them between the light and the screen. If they are nobles, as most are, he must be doubly careful never to let them get lower than his head. From the dalang’s side of the screen one thus sees the puppets themselves and their shadows rising up dominant on the screen behind them. From the reverse side of the wayang screen, one sees the shadow of the puppets only. Over the head of thedalang there is a special brass oil lamp (blencong) often shaped like the mythical bird Garuda. The light shining from the lamp on the head of the dalang – and making possible the projection of the shadow of the puppets on the screen – represents the divine light infused through the upper chakra in the dalang (intermediary between gods and humans). The puppets symbolize the original entities, or the celestial archetypes; the white screen represents the World. Thus, thanks to divine light, the ‘shadow’ of the archetypes are projected onto the  phenomenal world, where the dialectic of opposites takes place, but the world is, and remains, a ‘word of shadows’.

Musical accompaniment dates from as late as the eighteenth century; gamelan music is essential to a wayang performance, and the music is especially selected for each performance. The gamelan orchestra presents to the ear the picture of the inner life the shadow-play presents to the eye. It is an entirely percussion orchestra, which may consist of as many as fifty  instruments in a very large court ensemble. There are several tonal scales or modes, but in wayang purwa the music is mostly in salendro, the five-tonal scale of Javanese gamelan music, with approximately equal intervals between the tones (barang, gulu, dada, lima, nem). The music expresses the atmosphere of the various sections of the performance and accentuates the movements and words of the puppets. Some wayang characters have their own particular melodies, associated with their personalities and moods.
A dalang is highly respected and is often believed to possess supernatural qualities – especially healing – because of his position as mediator between people, gods and spirits. Adalang has nine voices for the main figures, as well as the typical language of each one; rengep (to involve completely), to keep the performance alive; enges (emotion), to create interest in the characters and involve and move the audience, for instance, during a dialogue between lovers; tutug(eloquence), to recite prescribed dialogues or pagedongan (traditional, fixed explanations); banyol(comedy), to  make the audience laugh; sabet (flow, wave), to handle the puppets correctly, and properly distinguish between their movements, especially during fight scenes; kawiraja (kawi refers to the old Javanese mode of speech, raja means ‘prince’), to be able to recite the traditional eulogy prior to the performance; parama-kawi (parama is the Sanskrit word meaning ‘high’), to correctly explain the nicknames of the kings and nobles in the performance; amardi-basa (to focus on language), to know the different ways that gods, giants or humans speak in their various social positions (hierarchy is strongly embedded in the Javanese language, which has two completely separate vocabularies: if the listener has a higher status krama is used, but if he has a low statusngoko is used); parama-sastra, to know the writings (layang) on which a performance may be based, and which are necessary to determine the content of the suluk (narrative announcements) and greget saut (pieces of music); awicarita (knowledge of many tales), to know all the tales referred to in a performance, the character depicted by each puppet, and the significance of each stage requisite;amardawa-lagu (melodious singing), to know the verse measure and singing techniques which are used in performance.

A lakon, the Javanese word for ‘play’, is an adaptation of the classical wayang literature forwayang performances, and is divided into fixed sections, these being related to religious overtones of consecration and entering a new state. The word lakon is derived from laku, which means ‘go’ or ‘act’, but can also imply ‘adventure’ or ‘journey’ Each section can be seen as a stop along the journey towards perfection. The transition from one section to the next is marked by suluk, the dalang’s recitative announcement of what is about to happen. The wayang purwa repertoire consists of four different performance cycles: the first, the preamble, deals with the origins of the world and the vicissitudes of the gods, and is inspired by both the Adiparwa, the prologue of the Mahabharata, and ancient Indonesian tales; the second, the Arjuna Sasra Bau cycle, deals with the lineage of several prominent characters of the Ramayana, including the birth of the twelve-headed giant known as Ravana or Dasamuka, and his opponent Arjuna Sasra Bau, he of a thousand arms, an incarnation of the god Visnu; the third cycle, the Rama cycle, is based on the Ramayana, and tells the story of the errant hero Rama, who goes in search of his wife Sita kidnapped by the giant Ravana; the fourth cycle, the Pandawa cycle is based on episodes from the Mahabharata, the story of the struggle between the five Pandawa brothers (Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula and Sadewa) who rule the country of Amarta and the hundred Korawa brothers of Ngastina (led by Suyodana, Sakuni, Dorna and Karna, the dissident half-brother to the Pendawa) which ends with the disastrous battle (Baratayuda) lasted eighteen days during which the champions from each side face one another.

Wayang stories states the formulation of how is action possible, given compassion. Their philosophy is that insofar as one can perceive ultimate reality, which is within oneself as an ultimate feeling (rasa), one will be free of the distracting effect of earthly emotions, not only compassion, but anger, fear, love, hope, despair, and all. This gives one great power, either for good, as in the case of the Pendawa, or for evil, as in the case of the Korawa. Good and evil are human values only, and God is in in everything, the hate and the cruelty as well as the love and the compassion; and everything is in God.
The Pandawa, especially Arjuna, are always accompanied by their five loyal servants clown by the name of panakawan: Semar, a very fat man with big belly and enormous buttock; and his sons Gareng, with his misshapen arms and cross-eyes; Petruk, a tall man with a very long nose; Topog and Bagong, with a squat body and very big eyes. Semar’s sons have been brought to life by their father’s practice of meditation. They live in the village of Karang Kabolotan, bolot means human body's dirt. Panakawan (pana means ‘clear vision, clever’ and kawan means ‘companion’), thus, those who have clear vision and that can give a wise advice. Although they are only servants, with ugly faces and disproportional bodies, they are very wise and good advisers. On the stage, the most pathetic scenes are often interrupted by the panakawan. This occurs especially during the gara-gara, the climax and turning point of the performance. There is a fine line between the sublime and the ridiculous; wisdom easily becomes foolishness and vice versa. Humour and satire have a protective and strengthening power and are the counterbalance for passion, despair, and other deep feelings which may disturb the harmony with their intensity. The Javanese word for clown, badut, is derived from badot, meaning ‘healer’. The panakawan are thought to be purely Javanese by origin because of their roles as mediators. They always refer to the ksatrias as «Ndara Den Bagus» (ndara, from bendara,means ‘master’; den, abbreviation of Raden, a male court title; bagus means good and handsome), the whole meaning being  “Master, do a good things”.
Semar or Sang Hyang Ismaya, the oldest and most important of the panakawan, was originally a god, ‘the twin brother of heaven’. He is the elder brother of the highest god, Batara Guru. As a punishment for a misdeed he was given a grotesque form and sent to earth to serve the descendants of the gods (ksatrias). He is the guide of the hero on a journey full of tribulations which the hero must overcome before achieving his goal.




Wednesday, 7 September 2011

Duan Tahun di Labsky, Sebuah Autobiografi

Pada tahun 2009 setelah lulus dari SMP, saya memutuskan untuk meneruskan sekolah di SMA Labschool Kebayoran. Tidak banyak pertimbangan bagi saya untuk masuk ke Labsky. Pada saat MOS saya masih kesulitan mencari teman karena hanya baru sedikit yang saya kenal , tetapi setelah selesai MOS dan memasuki pembelajaran efektif saya pun akrab dengan yang lainnya.  Kelas 10 diisi dengan banyak kegiatan wajib yang harus diikuti seluruh siswa seperti pra TO, TO, dan Bintama. di kelas 10 ini saya masuk ke kelas 10 D dengan wali kelas pak Edi Rufianto yang ternyata seorang wasit bulutangkis internasional, makan dari itu saat kelas 10 kami sering di tinggal pak Edi karena tugasnya sebagai wasit tersebut. Kegiatan di kelas 10 ini sangat banyak di mulai dengan pra TO sebelum kita melaksanakan TO, yaitu selama 3 hari kita akan di awasi oleh kakak OSIS untuk membuat perlengkapan TO, seperti mengecat tongkat, membuat nametag, memasak dan lain-lain. Di pra TO ini juga menuntut angkatan kami untuk kompak. Di pra TO juga ada siaga tongkat, yel-yel angkatan, barikade OSIS, dan pengumuman ketua dan nama angkatan kami yaitu Nawa Drastha Sandyadira atau singkatnya Nawastra. Saat menyerukan Nawastra untuk pertama kali saya merasa senang karena sebelumnya(saat smp) saya tidak pernah mendapat nama angkatan dan melakukan hal-hal ini.

Pra TO selesai maka minggu berikutnya kami berangkat ke Purwakarta untuk melaksanakan TO. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 2 jam, kami pun tiba, tapi kami harus berjalan melewati sawah dan tanjakan dengan membawa ransel yang seharusnya ringan karena lelah jadi terasa berat, akhirnya kami sampai di desanya. Kami tinggal bersama kelompok yang telah dibagikan saat pra TO selama 5 hari di rumah penduduk. Kami masak sendiri, mencuci piring dan membersihkan semuanya sendiri.  Saat TO kami juga melakukan penjelajahan, walaupun kelompok saya menjad kelompom yang terakhir berangkat karena ada kesalah pahaman waktu antara kami dan pembimbing TO kami dan ada dua orang dari kelompok kami yang tidak bisa ikut karena sakit , tidak menyurtkan semangat kami untuk penjelajahan. Saya saat menikmati penjelajahan karena kita pertualang melewati hutan-hutan dan melihat pemandangan yang tidak bsia saya lihat di Jakarta, bermain di air terjun. Saat penjelajahan ini jga terdapat pos-pos kakak-kakak OSIS seperti pos seksen, BN, kesmas dan lain-lain, juga ada pos-pos bayangan. Saat di air terjun kami membersihkan diri karena sebelumnya kami di suruh nyebur ke sawah di pos BN, kami juga makan pop mie sebelum melanjutkan perjalanan. Garis finish tinggal sedikit lagi tetapi saya sudah merasa sangat lelah karena membawa ransel dan tongkat juga karen telah menempuh perjalanan yang cukup jauh. Karena kelompok saya saling menyemangati dan membantu akhirnya kami sampai juga di finish dan lelah itu seakan hilang karena kami bisa istirahat dan mandi. Malam harinya ada api unggun di lapangan desa, saat api unggun suasana terasa sangat dekat di angkatan kami juga para kakak OSIS, juga ada dangdutan, kami pun merasa senang dan juga terharu mengingat besok akhirnya pulang ke Jakarta.
studi lapangan Bandung

XD

Kembali ke Jakarta kami masih terbawa suasana TO, karena TO masih jadi perbincangan hangat di sekolah. Tetapi saya juga harus berjuang karena semester 1 di kelas 10 hampir selesai. Saya terus berusaha agar nilai saya bisa mencukupi untuk masuk ke kelas 11 IPA nantinya. Awal Semester 2 kami ada kegiatan studi wisata ke Bandung, tapi tidak lama yaitu hanya 2 hari 1 malam. Kami mengunjungi macam-macam tempat disana juga ada malam keakraban nawastra yang di adakan di Bandung. Semester 2 ini selain sibuk mengejar nilai saya juga sibuk latihan untuk misi budaya ke Perancis yang juga akan di lanjutkan dengan tour keliling Eropa.

Sebelum berangkat ke Perancis selain latihan yang intensif setiap hari jum’at dan sabtu dari pagi sampai sore, sebagai siswa kelas 10 kami wajib mengikuti program Bintama yaitu kami tinggal selama 5 hari di markas Kopassus. Selama 5 hari kami tinggal dengan cara kopassus, kami harus berjalan sambil berbaris dan bernyanyi, makan yang harus dihitung dan mengikuti beberapa latihan seperti outbond disana. Kami juga di ajarkan cara bertahan hidup di hutan, seperti cara membunuh, menguliti dan memasak ular sehingga bisa di makan dan memakan umbi-umbian. Di hari ke tiga ketika saya dan teman-teman sudah tidur tiba-tiba kami di bangunkan oleh istri dari kopassus untuk melakukan caraka malam, yaitu kita berjalan mengikuti arah yang telah ditentukan dan membawa pesan yang telah di berikan oleh kopassus dan harus disampaikan ke kopassus yang telah di tentukan di garis finish. Malam berikutnya ketika saya sedang tidur kopassus membangunkan barak saya dengan galon dan panci yang dipukul-pukul, karena panik dan gelap saya sulit menemukan sepatu saya, lalu kami disuruh berbaris di depan barak dan di bawa ke lapangan. Di lapangan sudah ada api unggun dan kakak osis yang membawa bendera mera putih. Lalu dengan iringan lagu nasional satu-persatu dari kami maju untuk mencium bendera merah putih dengan kobaran dari api unggun, saya merasa rasa nasionalisnme saya sangat besar saat itu. Setellah cium bendera kami makan sate yang telah di sediakan oleh POMG. 5 hari pun terasa begitu cepat, tak terasa saatnya kami pulang ke jakarta.

Baru saja selesai bintama dengan rasa lelahyang masih terasa saya harus terus melanjutkan latihan untuk misi buday ke Perancis karena kurang dari sebulan lagi kami akan berangkat. Setelah latihan yang terus saya lakukan di mana yang lain sudah libur, akhirnya hari keberangkatan pun tiba. Kami berkumpul di sekolah untuk di lepas oleh Bu Ulya lalu bersama-sama berangkat ke Bandara Soekarno-Hatta. Saya merasa senang dan sedih, senang karena akhirnya setalah latihan selama kurang lebih 4 bulan kami berangkat ke Perancis, sedih karena harus jauh dari orang tua dan Jakarta selama 3 minggu.
Sebelum tiba di Perancis pesawat kami transit di Dubai selama 2 jam, lalu meneruskan perjalanan ke Perancis. Setelah perjalanan kurang lebih 14 jam kami pun tiba di perancis, setelah naik kereta kami harus meneruskan perjalanan dengan kereta ke kota Romans tempat festival berlangsung. Sesampai di Romans kami di jemput oleh pedamping kami selama festifal yaitu Lara dan Mike. Lalu saya dan yang lainnya pergi ke sebuah rumah untuk makan malam, walaupun sangat lelah dan karena juga sudah larut malam saya berusaha tetap mengikutinya karena sambutan orang-orang disana juga sangat ramah. Setelah makan malam kami diantarkan ke camp selama kami festival. Di camp itu ternyata tidak hanya ditinggali oleh tim Indonesia tetapi juga dari Mongolia, Georgia dan lain-lain.
Tim Indonesia

bersama salah satu peserta dari Chile

Keesokan harinya kami memulai festifal yang berlanmgsung selama kurang lebih seminggu. Saat pembukaan festifal tim kami membawakan tarian saman, saya merasa sangat bangga bisa mengenalkan budaya Indonesia di luar negri apalagi sambutan penonton yang juga sangat meriah ditambah lagi kami mendapat standing applausedari penonton disana. Hari-hari saya disana sangat menyenangkan dan juga melelahkan, saya dan tim tidak hanya menari di kota Romans saja, tetapi juga kota-kota di sekitar Romans. Selain itu kita juga parade di sekitar Romans sambil bernyanyi. Sehingga tidak terasa festifal pun selelesai, pagi-pagi kami sudah siap berangkat ke stasiun kereta di Romans untuk naik kereta ke Paris, saya sangat tidak sabar untuk segera tiba di Paris. Di Paris kami mengunjungi menara Eiffel dan beruntungnya saat itu sedang ada perayaan ulang tahun Perancis jadi ada parade di jalan-jalan, dan sayangnya saat itu turun hujan dan menjadi sangat dingin.  Kami juga pergi ke Disneyland Paris, saya sangat senang karena ini pertama kali saya pergi ke Disneyland dan di Paris.
Menara Eiffel

Hari berikutnya kami berangkat dengan bus menuju ke Belanda sebelumnya kami berhenti di Belgia untuk makan siang dan berfoto. Sesampai di Belanda kami makan malam di restoran khas Indonesia yang ada di kota Amsterdam. Lalu kami pergi ke kota Volendam untuk berfoto dengan kostum khas Belanda. Setelah bermalam kam melanjutkan perjalanan melewati Jerman, akhirnya kami sampai di Swiss, di Swiss kami bermalam dekat dengan Gunung Titlis yang terkenal dengan salju abadinya, pemandangan disana sangat indah ditambah dengan udara yang cukup dingin. Kami pun berkesempatan naik ke atas Gunung Titlis dengan cable car. Perjalanan kami di akhir di kota Roma, sebelumnya kami mengunjungi menara miring Pisa, Colosseum, dan tempat-tempat lainnya. Tidak terasa kami sudah berada di bandara Roma siap pulang ke Jakarta.

Sesampainya di Jakarta, saya masih terkena jet lag, sudah harus masuk sekolah karena kami sudah tertinggal 2 minggu pembelajaran di kelas 11 IPA 2 karena tour Eropa. Saya harus mengejar semua mata pelajaran. Guru-guru mata pelajaran eksak juga memberikan jam pelajaran tambahan untuk kami. Di kelas 11 ini terasa sangat berbeda dengan kelas 10, apalagi saya bisa mendapatkan jurusan yang saya inginkan. Di kelas 11 ini saya mengikuti beberapa lomba Saman, dan saat di Sky Battle 2011 tim saya mendapat juara 1, saya sangats enang karena sebelumnya tim saya selalu belum beruntung untuk mendapat juara 1.

Di kelas 11 juga ada studi lapangan ke Jogjakarta, kami mgnunjungi pabrik jamu, pasar malioboro, Candi Prambanan, dan lain-lain. Di Candi Prambanan saya bersama ekskul tari tradisional mendapat kesempatan tampil di tempat pertunjukan Sendra Tari Ramayana. Kami menampilkan 2 tarian yaitu Saman dan Zapin, saya masuk ke kelompok Tari Zapin.

XI IPA 2

studi lapangan Jogja
Di kelas 11 ini angkatan kami juga mengadakan beberapa proker besar OSIS seperti Sky Battle dan Ske Avenue di akhir kelas 11. Saya senang bisa membantu kelangsungan acara tersebut dan ternyata sukses. Kelas 11 pun berakhir berarti tidak ada lagi waktu santai-santai di kelas 12 nanti, karena akan banyak ujian-ujian di kedepannya. Itulah cerita saya selama 2 tahun bersekolah di Labsky.