Showing posts with label Daviatri Apsariputri. Show all posts
Showing posts with label Daviatri Apsariputri. Show all posts

Monday, 17 October 2011

My Visit To The Museum



On Sunday, my friends and I went to the museum, the POLRI Museum. POLRI Museum is one of the newest museums in Jakarta, which was inaugurated by President Susilo Bambang Yudhoyono on July 1, 2009, on the same day to day police Birthday. Indonesian National Police (INP) is the name used after this unity separate from the Armed Forces in 2000. POLRI Museum building is located on Jl. Trunojoyo No.3, Kebayoran Baru, South Jakarta, just before heading checks as visitors will enter the National Police Headquarters in the same locationAlthough there were three male police officers at the checkpoint near the entrance gate, but I walked straight into the door of the museum without being asked to report to guard it. Shortly after entering the museum, a woman police officer who was standing friendly greeting from behind the reception desk, and with a faint smile he asked me to sign the guest book after visiting later. There is no fee for entry into the Museum.

When we entered the museum, there is a collection of two-wheeled vehicles ever used by the police, ranging from the train winds (bicycle), motorcycles, until a police patrol motorcycle tandem that are commonly used during the Dutch occupation and during the revolution of independence of Indonesia in the late 40s.

There are also some collections of weapons the police from the various models and manufacturers, such as the M1 Garand made in the United States output in 1917, Lee Enfield rifle made in England in 1917, and the Mauser rifle made in Germany between the years 1920-1938. Collection of guns and short barreled weapons are also exhibited on the first floor POLRI Museum, in addition to various police equipment for communication and investigation.

On the second floor, exhibited several themes relating to police organizations and various acts of police units in the past, like action heroism by police units and documentation of police activity in combating terrorism. A small monument that looks to the left of the picture is a miniature Monument Gorom, as memories of the police role during the struggle Trikora in 1962, which starts from Gorom Island. Area educational games for children on the second floor of this POLRI Museum. POLRI Museum has three floors, on the third floor where there is some room discussions, which may be reserved for groups of visitors.


 I think visits to the museum are very important. We can learn about the past and cherish the present. We have to be thankful because we don't live in pain when there's war.

Wednesday, 7 September 2011

Materi Sosiologi Kelas 2 Semester Ganjil (1)

STRUKTUR SOSIAL/STRATIFIKASI SOSIAL

A. Pengertian stratifikasi sosiala. Definisi stratifikasi sosial berdasarkan pendapat para ahli
Kata stratifikasi sosial berasal dari bahasa latin, yaitu stratum yang berarti tingkatan dan socius yang berarti teman atau masyarakat.
Menurut pendapat ahli:
1. Menurut pitirim A. Sorokin (1959), bahwa social stratification is permanent characteristic of any organized social group, yang artinya stratifikasi sosial merupakan ciri yang tetap pada setiap kelompok sosial yang teratur.
2. Paul B. Horton dan Chester L. Hunt, stratifikasi sosial berarti sistem perbedaan status yang berlaku dalam suatu masyarakat.
3. Astried S. Susanto, stratifikasi sosial adalah hasil kebiasaan hubungan antar manusia secara teratur dan tersusun sehingga setiap orang, setiap saat mempunyai situasi yang menentukan hubungannya dengan orang secara vertikal maupun horozontal dalam masyarakatnya.

Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa Stratifikasi Sosial adalah pembedaan masyarakat ke dalam kelas-kelas secara vertikal, yang diwujudkan dengan adanya tingkatan masyarakat dari yang paling tinggi sampai yang paling rendah.

b. Faktor penyebab stratifikasi sosial.Beberapa kondisi umum yang mendorong terciptanya stratifikasi sosial dalam masyarkar menurut Huky (1982);
1. Perbedaan ras dan budaya, perbeedaan cirri biologis seperti warna kulit, latar belakang etnis dan budaya pada masyarakat tetentu mengakibatkan kelas-kelas tertentu.
2. Pembagian tugas yang tersepesialisasi, perbedaan posisi atau status dalam stratifikasi sosial dalam pembagian kerja ini terdapat dalam setiap masyarkaat.
3. Kelangkaan, stratifikasi lambat laun terjadi karena alokasi hak dan kekuasaan yang jarang atau langka. Kelangkaan ini terasa bila masyarakat mulai membedakan posisi, alat kekuasaan dan fungsi-fungsi yang ada dalam waktu sama.

c. Dasar stratifikasi sosial1. Ukuran kekayaan, seseorang yang memiliki kekayaan paling banyak akan menempati pelapisan teratas.
2. Ukuran kekuasaan, seseorang yang memiliki kekuasaan atau mempunyai wewenang terbesar akan menempati pelapisan yang tinggi dalam pelapisan sosial masyarakat yang bersangkutan.
3. Ukuran kehormatan, orang yang dihormati dan disegani akan mendapatkan tempat pelapisan yang tinggi dan ini biasanya terdapat pada masyarakat yang masih tradisional.
4. Ukuran ilmu pengetahuan, digunakan sebagai salah satu faktor atau dasar pembentukan pelapisan sosial di dalam masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan.
d. Unsur-unsur stratifikasi sosial
(1) Status atau kedudukan
Paul B. Horton mendefinisikan status atau kedudukan sebagai suatu posisi seseorang dalam suatu kelompok sosial.
(a) Ascribed Status merupakan kedudukan yang diperoleh seseorang melalui kelahiran.
(b) Achieved status merupakan status atau kedudukan seseorang yang diperoleh melalui usaha-usaha yang disengaja.
(c) Assigned status merupakan status atau kedudukan yang diberikan.
(2) Peranan
Menurut Soerjono Soekanto dalam peranan setidaknya mencakup tiga hal, yaitu sebagai berikut:
(a) Peranan meliputi norma-norma yang dihubungkan dengan posisi atau tempat seseorang dalam masyarakat.
(b) Peranan sebagai konsep mengenai apa yang dapat dilakukan oleh individu dalam masyarakat sebagai organisasi.
(c) Peranan juga dapat dikatakan sebagai perilaku individu yang penting bagi struktur sosial masyarakat.
e. Sifat stratifikasi sosial1. Stratifikasi Sosial Tertutup
Membatasi kemungkinan seseorang untuk pindah dari satu lapisan ke lapisan yang lain, baik lapisan atas maupun lapisan bawah.
2. Stratifikasi Sosial Terbuka
Setiap anggota masyarakat mempunyai kesempatan untuk naik ke lapisan sosial yang lebih tinggi karena kemampuan dan kecakapanya sendiri, atau turun ke lapisan sosial yang lebih rendah bagi mereka yang tidak cakap dan tidak beruntung.
3. Stratifikasi Sosial Campuran
Ada kemungkinan di dalam suatu masyarakat terdapat unsur-unsur dari gabungan kedua sifat pelapisan sosial.

f. Wujud stratifikasi sosial1. Kriteria ekonomi
Stratifikasi ekonomi akan membedakan warga masyarakat menurut penguasaan dan kepemilikan materi. Kriteria ekonomi selalu berkaitan dengan aktivitas pekerjaan, kepemilikan atau kedua-duanya.
2. Kriteria sosial
Dengan memahami stratifikasi masyarakat berdasarkan kriteria sosial, orang akan mudah memahami peristiea atau gejala-gejala yang terjadidi dalam masyarakat.
3. Kriteria politik
Pelapisan dalam masyarakat berdasarkan kriteria politik berarti pembedaan penduduk atau warga masyarakat menurut pembagian kekuasaan. Sebagai dasar pembentukan pelapisan sosial, kekuasaan berbeda dari kriteria lain, yaitu ekonomi dan kedudukan sosial. Dapat dikatakan kekuasaan merupakan suatu unsur yang khusus dalam pelapisan sosial.

1. Lima kriteria stratifikasi sosial menurut Talcott Parson

Talcott Parsons menyebutkan lima kriteria tinggi rendahnya status seseorang, yaitu:
A) Kriteria kelahiran: meliputi faktor ras, jenis kelamin, kebangsawanan, dan sebagainya.
B) Kriteria kualitas pribadi : meliputi kebijakan, kearifan, kesalehan, kecerdasan, usia dan sebagainya.
C) Kriteria prestasi : meliputi kesuksesan usaha, pangkat dalam pekerjaan, prestasi belajar, prestasi kerja, dan sebagainya.
D) Kriteria pemilikan: meliputi kekayaan akan uang dan harta benda.
E) Kriteria otoritas : yaitu kemampuan untuk mempengaruhi pihak lain sehingga pihak lain tersebut bertindak seperti yang diinginkan.

2. Tujuh pedoman untuk memahami terbentuknya stratifikasi sosial

A. Distribusi hak-hak istimewa yang obyektif, seperti menentukan penghasilan, tingkat kekayaan, keselamatan dan wewenang pada jabatan/pangkat
B. Sistem pertanggaan (tingkatan) pada strata yang diciptakan masyarakat yang menyangkut prestise dan penghargaan, misalnya pada seseorang yang menerima anugerah penghargaan/gelar/kebangsawanan, dan sebagainya.
C. Kriteria sistem pertentangan, yaitu apakah didapat melalui kualitas pribadi,keanggotaan kelompok, kerabat tertentu, kepemilikan, wewenang atau kekuasaan.
D. Penentu lambang-lambang (simbol status) atau kedudukan, seperti tingkah laku, cara berpakaian dan bentuk rumah.
E. Tingkat mudah tidaknya bertukar kedudukan.
F. Alat solidaritas diantara individu-individu atau kelompok yang menduduki sistem sosial yang sama dalam masyarakat.

3. Cara terbentuknya stratifikasi sosial

1) Terbentuk dengan sendirinya, sesuai dengan perkembangan masyarakat yang bersangkutan. Misal kepandaian, tingkat umur, jenis kelamin, keturunan, sifat keaslian keanggotaan kerabat seorang kepala masyarakat dan harta kekayaan.
2) Dengan sengaja disusun, untuk mengejar tujuan tertentu. Misal pada organisasi formal pemerintahan, perusahaan, partai politik, perkumpulan, angkatan bersenjata, dan sebagainya.

4. Tujuh sifat masyarakat kasta/feodal

A. Keanggotaannya diperoleh melalui warisan dan kelahiran sehingga seseorang secara otomatis dan dengan sendirinya memiliki kedudukan seperti yang dimiliki orang tuanya.
B. keanggotaannya berlaku seumur hidup.
C. Perkawinannya bersifat endogami
D. Hubungan dengan kasta lain terbatas
E. Kesadaran dan kesatuan suatu kasta, identifikasi anggota kepada kastanya, penyesuaian diri yang ketat terhadap norma-norma kastanya.
F. Kasta terikat oleh kedudukan yang sevara tradisional telah ditentukan
G. Prestise suatu kasta benar-benar diperhatikan

5. Empat wujud solidaritas dari suatu kelas strata yang sama
A. Cara Berpakaian
B. Tempat Tinggal
C. Cara berbicara
D. Pendidikan

6. Alasan stratifikasi yang digambarkan dengan bagian kerucut

Stratifikasi sosial digambarkan dalam bentuk kerucut, hal ini berkaitan dengan jumlah warga masyarakat yang dapat digolongkan ke dalam kelas tersebut. Semakin tinggi kelas, semakin sedikit warga masyarakat yang masuk di dalamnya, sebaliknya semakin rendah kelas semakin banyak warga masyarakat yang digolongkan di dalamnya, Hal ini berlaku untuk kriteria sosial, politik dan ekonomi. Semua hal itu terjadi karena berhubungan dengan adanya prestise atau gengsi. Suatu pekerjaan bagi seseorang tidak sekedar berhubungan dengan berapa jumlah uang yang diterimanya sebagai gaji, tetapi juga status sosial yang dinikmati melalui pekerjaan itu.

7. Tiga sifat stratifikasi sosial dengan gambar1. Stratifikasi Sosial Tertutup
Membatasi kemungkinan seseorang untuk pindah dari satu lapisan ke lapisan yang lain, baik lapisan atas maupun lapisan bawah.
2. Stratifikasi Sosial Terbuka
Setiap anggota masyarakat mempunyai kesempatan untuk naik ke lapisan sosial yang lebih tinggi karena kemampuan dan kecakapanya sendiri, atau turun ke lapisan sosial yang lebih rendah bagi mereka yang tidak cakap dan tidak beruntung.
3. Stratifikasi Sosial Campuran
Ada kemungkinan di dalam suatu masyarakat terdapat unsur-unsur dari gabungan kedua sifat pelapisan sosial.


A. Empat Lapisan Masyarakat Tani Jawa Kuno
Lapisan sosial pada masyarakat tani kuno terdiri dari beberapa tingkatan yang terdiri dari:
1) Petani pemilik
Petani pemilik disini diartikan sebagai tuan tanah yang mana ia berperan sebagai pemilik tanah yang digarap atau dikerjakan oleh orang lain (penggarap atau buruh tani). Biasanya ia memiliki tanah/sawah yang sangat luas dan termasuk orang kaya atau orang yang memiliki status sosial yang tinggi/puncak (dalam masyarakat tani).
2) Petani pemilik + penggarap
Petani ini selain memiliki lahan juga menggarap atau mengolah sawahnya namun tidak dilakukan secara penuh dan kemudian dibantu oleh buruh tani. Kepemilikan tanah atau sawah petani ini tidak begitu besar luas. Disini ia memiliki status sosial yang tinggi namun tidak berada di puncak (tingkatan kedua).
3) Petani pemilik + penggarap + buruh tani
Petani ini lahannya tidak begitu luas, sehingga ia mengolah tanahnya sendiri tanpa bantuan dari buruh tani.
4) Buruh tani
Peran buruh disini biasanya hanya melakukan pengolahan sawah dan hidupnya sangat bergantung pada pemilik sawah yang mempekerjakannya atau dengan kata lain hidupnya hanya ikut petani pemilik/tuan tanah, sehingga meletakkannya pada status sosial yang paling bawah di dalam masyarakat tani jawa kuno ini.

B. Enam kelas sosial berdasarkan kriteria ekonomi.

Stratifikasi ekonomi akan membedakan warga masyarakat menurut penguasaan dan pemilikan ekonomi. Kriteria ekonomi selalu berkaitan dengan aktivitas pekerjaan, kepemilikan, atau kedua-duanya. Dengan kata lain, pendapatan, kekayaan, dan pekerjaan akan membagi anggota masyarakat kedalam beberapa stratifikasi atau kelas ekonomi.
Setiap stratifikasi dalam stratifikasi ekonomi disebut kelas ekonomi atau sering disebut kelas saja sehingga para warga masyarakat atau penduduk dpat digolongkan kedalam beberapa kelas ekonomi. Istilah kelas ekonomi mempunyai arti relatif sama dengan istilah kelas sosial, hanya saja istilah kels sosial lebih banyak dipkai untuk menunjuk stratifikasi sosial yang didasarkan atas kriteria sosial, seperti pendidikan atau pekerjaan. Tetapi kadang-kadang kelas sosial diartikan sebagai semua orang yang sadar akan kedudukannya didalam suatu pelapisan tanpa membedakan apakah dasar pelapisan itu uang, kepemilikan, pekerjaan, kekuasaan, atau yang lain.
Dilihat dari kriteria ekonomi, secara garis besar terdapat tiga kelas sosial yaitu:
a. Kelas atas (upper class)
b. Kelas menengah (middle class)
c. Kelas bawah (lower class)
Adanya kelas atas, kelas menengah, dan kelas bawah itu dikarenakan dalam masyarakat terdapat ketidak seimbangan atau ketimpangan (inequality) dalam pembagian sesuatu yang dihargai yang kemudian menjadi hak dan kewajiban yang dipikul oleh warga masyarakat.
Ada sebagian orang yang mendapatkan pembagian kecil dan ada pula sebagian orang yang mendapatkan pembagian lebih besar. Golongan yang mendapatkan pembagian lebih besar kemudian akan mendapatkan kedudukan pada pelapisan yang lebih tinggi dan golongan yang mendapatkan pembagian kecil akan mendapatkan kedudukan yang lebih rendah.
Tiga kelas sosial masing-masing masih dapat dibagi menjadi sup kelas sehingga dapat dijelaskan sebagai berikut.
a. Kelas atas (upper class)
- Kelas atas atas (A a)
- Kelas atas menengah (A m)
- Kelas atas bawah (A b)
b. Kelas menengah (middle class)
- Kelas menengah atas (M a)
- Kelas menengah menengah (M m)
- Kelas menengah bawah (M b)
c. Kelas bawah (lower class)
- Kelas bawah atas (B a)
- Kelas bawah menengah (B m)
- Kelas bawah bawah (B b)
Stratifikasi di atas digambarkan dalam bentuk kerucut, hal ini berkaitan dengan jumlah warga masyarakat yang dapat digolongkan kedalam kelas tersebut. Sebaliknya, semakin rendah kelas semakin banyak warga masyarakat yang dapat digolongkan didalamnya. Hal itu tidak hanya berlaku pada stratifikasi atas dasar kriteria ekonomi saja, melainkan juga pada bentuk-bentuk stratifikasi masyarakat yang lain, seperti kriteria sosial dan politik.

C. Lima macam pelapisan sosial kriteria mata pencaharian.

Stratifikasi Sosial Berdasarkan Kriteria Pekerjaan Jenis pekerjaan yang dimiliki oleh seseorang dapat dijadikan sebagai dasar pembedaan dalam masyarakat. Seseorang yang bekerja di kantor dianggap lebih tinggi statusnya daripada bekerja kasar, walaupun mereka mempunyai gaji yang sama. Adapun penggolongan masyarakat didasarkan pada mata pencaharian atau pekerjaan sebagai berikut.
1. Elite yaitu orang kaya dan orang yang menempati kedudukan
atau pekerjaan yang dinilai tinggi oleh masyarakat.
2. Profesional yaitu orang yang berijazah dan bergelar
kesarjanaan serta orang dari dunia perdagangan yang berhasil.
3. Semiprofesional mereka adalah para pegawai kantor,
pedagang, teknisi berpendidikan menengah, mereka yang tidak
berhasil mencapai gelar, para pedagang buku, dan sebagainya.
4. Tenaga terampil mereka adalah orang-orang yang mempunyai
keterampilan teknik mekanik seperti pemotong rambut,
pekerja pabrik, sekretaris, dan fotografer.
5. Tenaga tidak terdidik, dalam melakukan atau menjalankan tugasnya ia tidak perlu memiliki keahlian yang diperoleh dari hasil belalajarnya/pendidikan. Misalnya pembantu rumah tangga dan tukang kebun.

D. Tiga tipe pelapisan sosial kriteria politik kekuasaan.

Pelapisan dalam masyarakat berdasarkan kriteria politik berarti pembedaan penduduk atau warga masyarakat menurut pembagian kekuasaan. Sebagai dasar pembentukan pelapisan sosial, kekuasaan berbeda dari kriteria lain, yaitu ekonimi dan kekuasaan sosial. Dapat dikatakan kekuasaan merupakan suatu unsur yang khusus dalam pelapisan sosial. Apabila masyarakat menginginkan kehidupan yang teratur, maka kekuasaan yang ada padanya harus pula dibagi-bagi dengan teratur. Apabila kekuasaan tidak dibagi-bagi secara teratur, maka kemungkinan besar di dalam masyarakat akan terjadi pertentangan-pertentangan yang dapat membahayakan keutuhan masyaarakat.
Kekuasaan merupakan kemampuan untuk mempengaruhi pihak lain menurut kehendak atau kemauan pemegang kekuasaan. Setiap kemampuan untuk mempengaruhi pihak lain dinamakan kekuasaan, sedangkan wewenang adalah kekuasaan yang ada pada diri seseorang atau kelompok orang yang mempunyai dukungan atau mendapatkan pengakuan dari masyarakat sehingga wewenang merupakan otoritas atau legalized power. Dengan kata lain, wewenang atau otoritas adalah hak untuk mempengaruhi karena didukung oleh adanya norma atau peraturan yang menentukan keteraturan dalam masyarakat. Berdasarkan pengertian tersebut, wewenang harus didukung oleh kekuasaan, sebab jika tidak wewenang tidak akan berjalan efektif. Apabila kekuasaan itu dijelmakan di dalam diri seseorang atau sekelompok orang, maka orang atau sekelompok orang itu dinamakan pimpinan. Mereka yang menerima pengaruh adalah pengikutnya.
Bentuk-bentuk kekuasaan pada berbaai masyarakat didunia ini beraneka macam dengan masing-masing polanya. Akan tetapi, ada satu pola umum bahwa sistem kekuasaan akan selalu menyesuaikan diri dengan adat istiadat dan pola perilaku yang berlaku dalam masyarakat.
Garis batas yang tegas antara yang menguasai dengan yang dikuasai selalu ada. Garis batas ini menimbulkan pelapisan kekuasaaan atau piramida kekuasaan yang didasarkan pada rasa kekhawatiran para warga masyarakat akan terjadinya disintegrasi masyarakat apabila tidak ada kekuasaan yang menguasainya.
Menurut Mac Iver, ada tiga pola umum sistem stratifikasi kekuasaan pada piramida kekuasaan, yaitu kasta, oligarki, dan demokratis.

a. Tipe kasta

Tipe kasta memiliki sistem stratifikasi kekuasaan dengan garis pemisahan yang tegas dan kaku. Tipe semacam ini biasanya dijumpai pada masyarakat berkasta yang hampir tidak mungkin ditembus. Pada puncak piramida kekuasaan duduk penguasa tertinggi, misalnya raja atau maha raja, dengan lingkungannya yang didukung oleh kaum bangsawan, tentara, dan para pendeta. Pelapisan kedua dihuni oleh para petani dan buruh tani, dan pelapisan terendah terdiri atas para budak.

b. Tipe oligarkhi

Tipe oligarkhi memiliki tipe stratifikasi kekuasaan yang menggambarkan garis pemisah yang tegas diantara strata. Akan tetapi perbedaan antara strata satu dengan yang lain tidak begitu mencolok. Walaupun kedudukan para warga masyarakat masih banyak didasarkan kepada aspek kelahiran (ascribed status), akan tetapi individu masih diberikan kesempatan untuk naik ke strata yang lebih atas. Gambaran tipe tersebut adalah sebagai berikut. Kelas menengah mempunyai warga yang paling banyak: seperti industri, perdagangan, dan keuangan yang memegang peranan yang lebih penting. Ada bermacam-macam cara bagi warga dari strata bawah naik ke strata yang lebih atas, dan juga ada kesempatan bagi warga kelas menengah untuk menjadi penguasa. Tipe piramida semacam ini dijumpai ada masyarakat feodal yang telah berkembang. Suatu variasi dari tipe ini adalah stratifikasi yang terdapat pada negara yang didasarkan pada fasisme atau juga totaliter. Hanya bedanya untuk yang disebut terakhir, kekuasaan berada di tangan partai politik.

c. Tipe demokratis

Tipe demokratis yang tampak adanya garis pemisah antar lapisan yang sifatnya mobil (bergerak). Faktor kelahiran tidak menentukan kedudukan seseorang. Yang terpenting adalah kemampuannya dan kadang-kadang faktor keberuntungan.

E. Pengertian White Collar dan Blue Collar Divition job.
Pekerja kerah putih adalah istilah yang ditujukan kepada pekerja terdidik atau profesional rutin digaji yang bekerja di perkantoran semi-profesional, di bagian administrasi, dan di bagian koordinasi penjualan. Istilah ini adalah kebalikan bagi pekerja kerah biru, yang kegiatannya didominasi oleh kerja manual. Pekerja kerah putih, dengan kontras, melakukan non-manual buruh sering di kantor; dan pekerja industri layanan melakukan interaksi pelanggan melibatkan tenaga kerja, hiburan, ritel dan penjualan di luar, dan sejenisnya.
Pekerja kerah biru adalah anggota dari kelas pekerja yang biasanya melakukan kerja manual dan mendapatkan upah per jam. Pekerja kerah biru dibedakan dari orang-orang di sektor jasa dan kerah putih pekerja, pekerjaan yang tidak dianggap kerja manual. Pekerjaan kerah biru mungkin terampil atau tidak terampil, dan mungkin melibatkan perdagangan manufaktur, pertambangan, bangunan dan konstruksi, kerja mekanis, pemeliharaan, perbaikan dan operasi pemeliharaan atau instalasi teknis.

1. Pedoman untuk memahami pengertian kelas sosial.

Terbentuknya kelas dalam masyarakat karena diperlukan untuk menyesuaikan masyarakat dengan keperluan-keperluan yang nyata, akan tetapi makna kelas dan gejala-gejala kemasyarakatan lainnya hanya dapat dimengerti degan benar apabila diketahui riwayat terjadinya. Definisi lain dari kelas sosial adalah berdasarkan beberapa kriteria yaitu sebagai berikut:
1) Besar atau ukuran jumlah angota-anggotanya.
2) Kebudayaan yang sama, yang menentukan hak-hak dan kewajiban-kewajiban warganya
3) Kelanggengan
4) Tanda-tanda /lambang-lambang yang merupakan ciri khas.
5) Batas-batas yang tegas (bagi kelompok itu terhadap kelompok lain).
6) Antagonisme tertentu

2. Makna kelas sosial dalam hubungannya dengan peluang dan perilaku.

Stratifikasi merupakan konfigurasi atau pemilahan struktur sosial menggunakan parameter graduated atau berjenjang. Hal-hal yang menyebabkan terjadinya stratifikasi sosial yaitu adanya hal-hal yang dihargai dalam masyarakat misalnya uang, tanah, kekuasaan, kehormatan, keturunan, pendidikan, dan sebagainya. Hal-hal tersebut tidak terdistribusi secara merata di masyarakat. Terdapatnya stratifikasi sosial di masyarakat mempengaruhi timbulnya perbedaan:
a. Gaya hidup, dapat terihat dengan jelas perbedaan gaya hidup antara masyarakat kelas atas dengan masyarakat kelas bawah, yang mana gaya hidup masyarakat kelas atas selalu identik dengan kemewahan dan serba kecukupan dalam banyak hal. Sedangkan gaya hidup masyarakat kelas bawah selalu identik dengan apa apa yang serba pas-pasan dan terkadang tidak mampu mencukupi kebutuhan pokoknya.
b. Peluang hidup dan kesehatan adalah salah satu yang penting dan menonjol. Oleh karena, peluang hidup dan kesehatan ini sangat menentukan kualitas hidup seseorang, paling tidak terdapat dua faktor yang menghasilkan hubungan antara kelas sosial dengan kesehatan. Pertama, para anggota kelas sosial yang lebih tinggi biasanya menikmati sanitasi, tindakan-tindakan pencegahan serta perawatan medis yang lebih baik. Kedua, orang-orang yang mengidap penyakit kronis, status sosialnya cenderung turun ke bawah dan sulit mengalami mobilitas sosial vertikal naik. Oleh karena, penyakitnya menghalangi mereka untuk memperoleh dan mempertahankan berbagai pekerjaan.
Sebenarnya, peluang hidup dan kesehatan adalah dua hal yang berbeda. Dapat dikatakan bahwa peluang hidup merupakan kesempatan seseorang untuk meraih kesejahteraan dan kualitas hidup yang sebaik-baiknya. Sedangkan kesehatan adalah kondisi jasmani rohani yang baik dan mendukung perolehan peluang hidup yang besar. Akan tetapi, jika seseorang memiliki peluang hidup yang baik, dia dapat semakin menambah tingkat kesehatannya. Oleh karena itu, keduanya adalah hal yang saling mempengaruhi. Peluang hidup dan kesehatan sendiri dapat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan. Seseorang yang memiliki tingkat pendidikan rendah biasanya memiliki tingkat peluang hidup dan kesehatan yang rendah pula. Hal tersebut dikarenakan oleh semakin rendah tingkat pendidikannya, semakin rendah pengetahuan yang didapat mengenai kesehatan. Banyak orang berpendidikan rendah tidak tahu pasti bagaimana cara menjaga kesehatan dan mengobati penyakit sehingga justru memperparah keadaan. Tingkat ekonomi dan profesi seseorang pun dapat mempengaruhi peluang hidup dan kesehatan. Orang yang memiliki tingkat ekonomi rendah biasanya tidak mampu mendapatkan perawatan kesehatan yang baik.
c. Peluang bekerja dan berusaha, masyarakat kelas atas biasanya lebih mudah untuk mendapatkan pekerjaan yang mapan dan sesuai dengan yang ia inginkan karena mereka memiliki akses yang kuat dan banyak didalam dunia kerja. Selain itu masyarakt kelas atas cenderung ingim mempertahankan status sosialnya yang berada di atas tersebut dengan materi yang ia punya melalui peluang bekerja dan berusaha ini. Sedangkan untuk warga masyarakat kelas bawah mereka kesulitan untuk mengakses peluang bekerja dan usaha karena keterbatasan materi dan statusnya didalam masyarakat.
d. Respon terhadap perubahan, pada hakikatnya manusia adalah makhluk yang dinamis yang mana selalu ingin berubah dan maju. Dalam hal ini masyarakat kelas atas memiliki respon yang bebeda dibanding masyarakat kelas bawah terhadap perubahan.
e. Kebahagiaan, disini hal-hal yang menentukan kebahagiaan masyarakat kelas atas dan bawah itu berbeda. Bila masyarakat kelas bawah sudah bahagia apabila kebutuhan pokoknya seperti sandang, pangan, papan, kesehatan dan pendidikan tercukupi, namun masyarakat dikelas atas belum cukup bahagia bila hanya hal itu saja, lebih dari itu mereka perlu mobil bagus, rumah mewah, jabatan yang bergengsi, perawatan kecantikan, pelayanan dan masih banyak hal lagi.
f. Sosialisasi dalam keluarga/ keharmonisan keluarga, masalah yang sering timbul dalam keluarga yang bersal dari masyarakat kelas bawah biasanya adalah masalah ekonomi, namun pada masyarakat kelas atas masalah ekonomi bukanlah yang utama namun banyak hal lain yang menyebabkan keributan dalam keluarga seperti perselingkuhan, ketidakcocokan dan hal-hal lain seperti yang kita ketahui dalam kehidupan nyata.
g. Perilaku politik, selain dari pekerjaan dan usaha biasanya warga masyarakat kelas atas ini ingin melanggengkan kelas sosialnya tersebut melalui politik atau dengan kata lain orang kaya lebih agresif perilaku politiknya dibanding orang yang tidak mampu.

3. Upaya untuk menanggulangi ketidaksamaan sosial.

Upaya untuk mengurangi ketidaksamaan sosial melalui:
a. Pendidikan; merupakan saluran untuk naik kelas (mobilitas sosial) dan meningkatkan standar kualitas hidup manusia.
b. Pemahaman multikultural (multikulturalisme), paham yang menganggap semua manusia sederajat, Multikulturalisme adalah paham yang mengizinkan atau bahkan menganjurkan keanekaragaman ras dan etnis. Sikap multikulturalisme ditunjukkan dalam sikap menyadari, menerima dan menghargai perbedaan diantara anggota masyarakat.
c. Pemerataan pembangunan. Yang ini ditujukan untuk pemerintah.

4. Upaya generasi muda untuk mengurangi ketidaksamaan sosial.

a. Menunda kesenangan
b. Pandai bermain/ bergaul
c. Sehat
1) Pengertian Status Sosial.
Status sosial adalah kedudukan atau posisi sosial seseorang dalam kelompok masyarakat yang meliputi seluruh posisi sosial yang terdapat dalam sustu kelompok besar dalam masyarakat, dari yang aling rendah hingga yang paling tinggi dalam pola hubungan sosial tertentu.
Status sosial juga bisa diartikan sebagai kedudukan, yaitu tempat atau posisi seseorang dalam suatu kelompok sosial. Kedudukan sosial artinya adalah tempat seseorang secara umum dalam masyarakat sehubungan dengan orang-orang lain, dalam arti lingkungan pergaulannya, prestisnya, dan hak-hak serta kewajibannya.
2) 3 Macam Status Sosial.
Paul B. Horton mendefinisikan status atau kedudukan sebagai suatu posisi seseorang dalam suatu kelompok sosial.
(a) Ascribed Status merupakan kedudukan yang diperoleh seseorang melalui kelahiran.
Misalnya dalam masyarakat yang berkasta seperti yang berada di Bali, India ataupun Kerajaan.
(b) Achieved status merupakan status atau kedudukan seseorang yang diperoleh melalui usaha-usaha yang disengaja.
Misalnya, seorang anak petani ingin menjadi pejabat. Karena ia belajar dengan rajin dan bisa menjadi orang yang dipercaya di lingkungannya maka ia pun berhasil menjadi pejabat.
(c) Assigned status merupakan status atau kedudukan yang diberikan karena jasanya pada masyarakat.
Misalnya pahlawan, kyai
3) 3 Bentuk Stratifikasi Sosial Berdasarkan Achived Status.
1. Stratifikasi berdasarkan Jenjang Pendidikan (education stratification)
Jenjang seseorang biasanya memperngaruhi setatus sosial seseorang di dalam struktur sisialnya. Seseorang yang berpendidikan tinggi hingga bergelar Doktor tentunya akan bersetatus lebih tinggi dibandingkan dengan seorang yang lulusan SD.
2. Stratifikasi di bidang Perkerjaan
Berbagai jenis perkerjaan juga berpengaruh pada system pelapisan sosial. Anda tuntu sering memiliki penilaian bahwa orang yang berprofesi sebagai panrik becak, kuli bangunan, buruh pabrik dan para pekerja kantoran yang berpakaian bersih, berpenampilan rapi, berdasi dan mengendari mobil, selalu membawa Hp tentu memiliki perbedaan status sosial dalam masyarakat. Para pekerja kantoran akan memiliki status sosial yang relative lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok yang berprofesi sebagai penarik becak. Pola seperti ini juga bersifat terbuka artinya system pelapisan sosial seperti ini membuka peluang bagi siapa saja yang memiliki kegigihan dalam usaha untuk meraihnya termasuk anda.
3. Stratifikasi di bidang Ekonomi
Gejala ini hampir ada diseluruh penjuru dunia. Yang paling mudah di identifikasi di dalam struktur sosial adalah didasarkan pada besar kecilnya penghasilan dan kepemilikan benda-benda materi yang sering disebut harta benda. Indikator antara kaya dan miskin juga mudah sekali di identifikasi, yaitu melalui pemilikan sarana hidup. Orang kaya perkotaan dapat dilihat dari tempat tinggalnya seperti di kawasan real estate elite dengan rumah mewahnya yang dilengkapi dengan taman, kolam renang, memiliki mobil mewah dan benda-benda berharga lainnya. Sedangkan kelompok masyarakat miskin berada dikawasan marginal (pinggiran), hidup di pemukiman kumuh, tidak sehat, kotor, dan sebagainya. Adapun orang kaya perdesaan biasanya diidentifikasi dengan kepemilikan jumlah lahan pertanian, binatang ternak, kebun yang luas dan sebagainya.7
4) 2 Bentuk Stratifikasi Berdasarkan Acribed Status.
1. Status di dasarkan pada system kekerabatan
Fenomena ini dapat dilihat berbagai peran yang harus diperankan oleh masing-masing anggota keluarga dalam suatu rumah tangga. Munculnya kedudukan kepala keluarga, ibu rumah tangga dan anak-anak berimplikasi pada status dan peran yang harus diperankan oleh masing-masing orang dalam rumah tangga. Seorang istri harus berbakti kepada suami dan suami juga harus menghormati istri karena perannya sebagai pengasuh anak, pendidik anak, dan sebagainya, sedangkan anak-anak harus menaati nasehat orang tua dan dari orangtuanya ia berhak mendapatkan kasih saying.
2. Stratifikasi berdasarkan kelahiran (born stratification)
Seorang anak yang dilahirkan akan memiliki status sosial yang mengekor pada status orang tuanya. Tinggi rendahnya seorang anak biasanya mengikuti status orang tuanya.
5) Pengertian Status Simbol.
a. Simbol “sesuatu” yang oleh penggunanya (masyarakat) diberi makna tertentu.
b. Ciri-ciri/tanda-tanda yang melekat pada diri seseorang atau kelompok yang secara relatif dapat menunjukkan statusnya
c. Antara lain: cara berpakaian, cara berbicara, cara belanja, desain rumah, cara mengisi waktu luang, keikutsertaan dalam organisasi, tempat tinggal,cara berbicara, perlengkapan hidup, akses informasi, dst.

Tuesday, 9 August 2011

Pengalaman seorang Daviatri Apsariputri di SMA Labschool Kebayoran


29019. Itu adalah nomor yang saya lihat di depan sekolah SMA Labschool Kebayoran pada awal April tahun 2009. Nomor ujian saya. Saya telah berhasil masuk salah satu SMA yang telah saya minati dari dahulu. Sebagai siswi SMP Labschool Kebayoran, saya sering mengamati siswi-siswi SMA Labschool Kebayoran pada saat itu dan saya sangat iri dengan mereka, karena mereka sepertinya jauh lebih bebas dari murid-murid SMP, yang harus masuk sekolah tepat waktu jam 7, yang harus memakai kerudung, yang harus selalu berteriak-berteriak semboyan Labschool setiap saat....bukannya saya menganggap hal-hal seperti itu adalah hal yang buruk, namun sepertinya anak SMA jauh lebih dianggap dewasa dan di beri kebebasan dan kepercayaan lebih. Alasan-alasan seperti itulah yang menyebabkan saya dan teman-teman saya ingin cepat-cepat beranjak SMA.

Bulan-bulan pun berlalu, saya pun akhirnya lulus Ujian Akhir Nasional yang di selenggarakan oleh pemerintah dan mendapat hasil yang lumayan memuaskan. Tadinya, saya ingin memasukan nilai saya ke SMA 8 atau 70, karena SMA-SMA tersebut merupakan SMA unggulan dan saya sangat tertarik untuk masuk SMA negeri. Namun beberapa alasan seperti jadwal liburan, dan ternyata orangtua saya sudah membayar untuk masuk SMA Labschool Kebayoran, menggagalkan rencana untuk masuk SMA 8 dan 70.

Setelah libur yang lumayan panjang, hari pertama sekolah pun tiba. Pra-Masa Orientasi Sekolah. Pramos. Saya pun sebenarnya tidak siap untuk mengambil langkah yang besar ini, masuk SMA, namun saya selalu ada teman-teman saya dan keluarga saya yang mendukung. Jujur saya deg-degan. Saya sedikit takut akan kakak kelasnya, namun lebih takut lagi karena saya tidak tahu apa saja kah akan yang saya hadapi. Untungnya, banyak sekali teman-teman saya yang masuk SMA Labschool Kebayoran juga, jadi istilahnya kami disini semuanya bersama-sama lah.

Pada hari Pra-Mos tersebut saya melihat banyak sekali wajah-wajah baru. Teman-teman baru, kakak-kakak kelas baru, dan tentunya guru-guru baru. Kami pun di beri banyak sekali kewajiban untuk MOS, seperti membawa makanan yang aneh-aneh, membuat nametag yang susah, foto MOS yang juga tidak kalah susah, membeli jepit-jepitan untuk rambut, banyak deh!

Masa-masa MOS pun berjalan dengan sangat lambat, anehnya. Banyak sekali materi yang harus saya dengarkan, dan saya itu orangnya sangat mudah mengantuk, jadi saya sangat berusaha untuk tetap terbangun. Saat mendengarkan materi-materi yang membosankan ini, saya pun berkenalan dengan sekarang salah satu sahabat dekat saya, Adinda Sari Putri Nawawi. Ia adalah teman sekelompok saya saat MOS. Kami berasal dari SMP yang berbeda, dan ternyata kami mempunyai kesamaan yang lumayan banyak.

Setelah MOS pun berlalu, saya masuk ke kelas XA, dan anehnya saya sekelas dengan dua sahabat saya yang sangat dekat, Diandra Atyaparamita dan Sabrina Tatya Aprisasuri (dan saya pun lanjut sekelas dengan Sabrina yang akrab dipanggil Sabby untuk 3 tahun ke depan). Saya berpikir saya akan dipisah dengan mereka karena kami sangat dekat saat SMP. Saya juga berkenalan dengan teman baru, namanya Arindra Previanti dan ia berasal dari SMP Al Ikhlas. Kami berempat pun menjadi teman yang sangat dekat.

Di kelas X ini saya pun belajar banyak sekali pelajaran baru, seperti kimia contohnya dan sosiologi. Pelajaran-pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam pun sangat saya nikmati, namun saya mengalami nilai-nilai rendah di pelajaran-pelajaran tersebut (apalagi kimia). Saya juga sangat suka belajar IPS, apalagi sosiologi karena gurunya sangat baik. Saya juga sangat suka pelajaran kewarganegaraan saat kelas X, karena gurunya sangat baik-baik.

Teman-teman sekelas saya seru-seru sekali. Beberapa teman lama dan teman baru yang saya dekat tahun ini adalah Levina Aurellia, Nabila Berlianty, Nadhia Aleidha, Sandrina Denira, Meuthia Sylviana, Zarina Martha, dan masih banyak sekali yang lainnya yang merupakan teman akrab juga. Teman saya yang masuk SMA 70 pun akhirnya masuk SMA Labschool Kebayoran, yaitu Tatuka Nurrachman.

Kelas X ini bisa dibilang tahun tersibuk saya di SMA Labschool Kebayoran. Banyak sekali program-program sekolah yang harus saya ikuti sepanjang tahun ini. Saya pun juga harus memilih ekskul untuk dijalani dan saya memilih untuk ikut ekskul modern dance (atau di Labschool Kebayoran, group modern dance ini lebih sering disebut DAZZLING)  dan saya juga jadi salah satu manager untuk teman-teman saya yang mengikuti ekskul bola. Untuk memasuki ekskul modern dance ini tidak gampang, saya harus melakukan audisi di depan satu sekolah, sendiri, sepanjang 3 menit. Saya sangat malu namun entah kenapa saya berhasil melewati 3 menit tersebut dan sampai sekarang pun saya tetap aktif di ekskul modern dance ini (sejauh ini, di modern dance saya dan teman-teman saya telah mengukir beberapa prestasi, beberapa contohnya adalah juara 3 di TARQ CUP 2010, juara 2 di SKYBATTLE 2011, juara 2 di BEEVOLUTION 2011 dan juara 2 di BRI CUP 2011).

Salah satu program sekolah yang harus saya ikuti pada kelas X adalah Pra-Trip Observasi dan Trip Observasi. Jujur saja, Pra-Trip Observasi sangat menyiksa saya. Pra-Trip Observasi sangat menyita waktu dan energi karena pada program ini kami harus mengecat tongkat sesuai desain yang telah kakak-kakak OSIS bikin, dan kami harus membuat nametag juga sesuai dengan desain yang telah kakak-kakak OSIS bikin juga. Kami juga diberi banyak sekali panggilan-panggilan yang selalu dipanggil-panggil (dan panggilan-panggilan ini sangatlah menghibur) dan kami juga disuruh untuk lari pagi setiap hari ke rute yang sangat panjang dan meletihkan. Kami juga di suruh latihan argumen dengan kakak OSIS dan banyak sekali drama yang terjadi di Pra TO.

Kalau Trip Observasi, itu beda cerita. Trip Observasi sangatlah seru. Kami semua dikirim ke sebuah desa di Jawa Barat yang bernama desa Pasir Muncang, dan di desa itu pun kami di tugaskan untuk meneliti beberapa topik karya tulis, dan juga membantu petani-petani di desa tersebut berkerja (program membantu pekerja desa ini kalau tidak salah disebut PKD atau Peduli Kehidupan Desa). Di Trip Observasi ini saya berkenalan dengan suasana yang baru, yaitu suasana yang sangat berbeda dengan suasana kota Jakarta. Suasana kota yang bersih dan rindang dan sangat asri ini membuat saya dan teman-teman saya susah untuk rela pergi dari tempat yang sangat indah ini. 5 hari yang berlalu itu terasa sangat cepat.

Program sekolah lainnya yang harus saya ikuti pada kelas X adalah BINTAMA. Program ini adalah (jujur saja) program sekolah yang sangat saya tidak gemari, namun saya menjalankan dengan sepenuh hati. Bintama ini sendiri adalah program untuk membina mental siswa, banyak sekali kegiatan-kegiatan militer (maklum, kami menginap selama 5 malam di markas angkatan darat), seperti PBB dan outbond yang harus kami jalani. Kami juga menjalani jerit malam yang menurut saya sangat seram, dan pada malam itu pun kaki saya terkilir dan terasa sangat sakit sekali. Namun secara keseluruhan banyak sekali pelajaran yang saya bisa terapkan di kehidupan sehari-hari yang saya pelajari di Bintama ini, dan banyak sekali kenangan kenangan yang saya ingat terus sampai sekarang di program Bintama ini.

Program sekolah lain yang saya harus jalani saat saya di SMA Labschool Kebayoran adalah program Lapinsi dan program TPO. Saya dulu termasuk salah satu murid yang ingin menjadi pengurus OSIS, tepatnya seksi kesenian. Saya mengikuti program Lapinsi yang dijalankan di sekolah, dan juga mengikuti Tes Potensi Organisasi yang dilaksanakan di sekolah juga. Saya pun berusaha sangat keras di Tes Potensi Organisasi dan pada akhirnya saya pun juga di terima di Tes Potensi Organisasi dan saya di terima untuk menjadi salah satu pengurus OSIS. Setelah di terima menjadi salah satu pengurus OSIS saya pun mengikuti tes kesenian yang tes nya sangat....tidak bisa di deskripsikan dengan kata-kata. Akhirnya saya pun di terima menjadi salah satu seksi kesenian di OSIS, tepatnya kesenian 2.

Saat kelas X pun kami menjalankan studi wisata ke Bandung. Di Bandung ini kami mengunjungi berbagai macam tempat, contohnya museum geologi dan pusat pemandian air panas di Ciater. Di Bandung ini kami juga menginap di wisma yang sedikit seram, namun pengalamannya tidak terlupakan karena kami menjalani studi wisata yang singkat ini dengan sangat gembira.

Setelah satu tahun yang meletihkan ini, saya pun naik kelas ke kelas XI dan alhamdulillah nilai saya bisa masuk ke dua jurusan, yaitu IPA dan IPS namun saya memilih untuk masuk ke jurusan IPA. Setelah liburan yang singkat (libur Labschool selalu singkat) saya kembali masuk sekolah dan memasuki kelas saya yang baru yaitu IPA 3. Di kelas ini saya sangat senang karena teman-temannya sangat baik, beberapa di antaranya adalah Astidira Apti, Adinda Nawawi, Nabel Ihsan Muhammad, Alya Rahmania, Hanifan Fajar, M. Nashir, Dimas Ismail, Adisti M., dan tentunya..........Sabrina Tatya Aprisasuri. Lagi. Masih banyak sekali teman-teman saya yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu.

Awal kelas XI ini diisi oleh persiapan untuk menjadi OSIS. Sebagai seksi kesenian, saya dan teman-teman saya di seksi ini harus membuat lambang-lambang OSIS, nametag TO, ketentuan-ketentuan TO, dan masih banyak lagi. Kami juga mempersiapkan untuk membantu kakak-kakak Hastara menjalankan program Sky Avenue mereka. Setelah Sky Avenue itu pun kami menjalankan lari Lintas Juang, yaitu lari sejauh 17 km dari Taman Pemakaman Kalibata sampai sekolah kami (SMA Labschool Kebayoran). Lari ini melambangkan perjuangan kami untuk menjadi pengurus OSIS.

Setelah itu pun berjalan hari-hari seperti biasa, belajar di kelas, main di kelas, dan lain lain. Setelah lari lintas juang itupun kami dilantik pada tanggaal 17 Agustus 2011. Tugas pertama kami adalah  untuk membimbing adik-adik angkatan 10 untuk menjalankan TO, Pra-TO, Lapinsi, Bintama, dan program-program lain yang telah saya lewati pada saat kelas X. Namun bedanya dengan tahun lalu, tahun ini angkatan saya bertanggung jawab untuk menjalankan proker-proker yang besar di SMA Labschool Kebayoran yaitu Sky Avenue dan Sky Battle.

Sky Battle di selenggarakan lebih dulu daripada Sky Avenue. Sky Battle adalah cup yang di selenggarakan antar sekolah untuk membangun kompetisi antara sekolah dan membina silahturahmi dengan sekolah lain. Di Sky Battle ini saya menjadi koordinator pertandingan Cheerleading, dan alhamdulillah sebanyak 9 peserta mengajukan diri untuk mengikuti program Cheerleading di Sky Battle ini, dan dimenangkan oleh SMA 31. Saya juga ikut sebagai peserta di cabang modern dance bersama ketiga teman saya, Diandra Atyaparamita, Adella Maulana dan Dian Damaningtyas, dan senangnya, kami bisa mengukir prestasi dan meraih juara 2. Kami juga (seluruh Dazzling) menari di acara penutupan Sky Battle berpura-pura menjadi detektif.

Sky Avenue juga terlaksana pada akhir Juli. Sky Avenue tersebut sendiri adalah sebuah pertunjukan pentas seni yang dibuka untuk umum, dan pada Sky Avenue tahun ini kami mengundang banyak sekali artis seperti SHEILA ON 7, GUGUN BLUES SHELTER, WHITE SHOES AND THE COUPLES COMPANY, dan juga THE SIGIT. Banyak sekali pertunjukan dari anak-anak Labschool juga seperti Dazzling, Lamuru dan Aruna Chandrika. Banyak sekali band-band featuring yang lolos juga dan banyak sekali band audisi dan dance audisi yang lolos juga. Ketua panitia dari acara ini adalah teman saya Safira Ramadhani.

Salah satu yang paling berkesan di kelas 11 adalah program Skylite 2011. Skylite 2011 itu adalah drama musikal yang diselenggarakan di Usmar Ismail Hall untuk menggalang dana untuk Sky Avenue. Saya diberi kesempatan oleh yang lain untuk membina dan membimbing program ini, namun saya akhirnya malah bersenang-senang dengan teman-teman Nawastra dan Daswira dan juga Kak Nurul, Kak Gadis, Kak Jodhi, Kak Rachman, Kak Nada yang juga berpartisipasi di program ini. Skylite 2011 ini sangatlah seru, meskipun saya dan teman-teman saya bercapek-capek untuk 4 bulan, namun hasilnya sepadan, kami bisa memberikan penampilan yang sangat bagus, dan kami bisa menghasilkan uang untuk Sky Avenue.

Sekarang, saya duduk di kelas 12. Tahun depan Insyaaallah saya akan masuk kuliah dan tidak lagi bersekolah di SMA Labschool Kebayoran. SMA Labschool Kebayoran telah memberikan dampak yang sangat banyak bagi diri saya. Saya belajar untuk menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya, saya belajar untuk berorganisasi, saya bertemu dan berteman dengan teman-teman baru. SMA Labschool Kebayoran telah memberikan banyak sekali memori untuk di kenang. Saya sangat bersyukur sempat sekolah di SMA ini. Saya sangat senang. Terima kasih SMA Labschool Kebayoran telah mengubah hidup saya!


tampil di closing SKY BATTLE 2010


Lalinju 2011 bersama penerus seksi kesenian


2009, saat kelas X bersama Andra


studi lapangan di Bandung


penampilan Dazzling pertama di sekolah, 2009


SKYLITE 2011 bersama kedua pemeran utama


penampilan di Sky Avenue 2010


penampilan di SkyBattle 2011


mengikuti cup sekolah lain.