Showing posts with label Arif Budi Pracasta. Show all posts
Showing posts with label Arif Budi Pracasta. Show all posts

Monday, 19 December 2011

Dari Labsky Untuk Indonesia

MATERI SOSIOLOGI KELAS X SEMESTER 2

A. Proses Sosialisasi
1.Proses sosialisasi adalah sebuah proses seumur hidup yang berkenaan dengan bagaimana individu mempelajaricara-cara hidup, norma dan nilai sosial yang terdapat dalam kelompoknya agar dapat
berkembang menjadi pribadi yang bisa diterima masyarakat.
2.Tujuan sosialisasi sebagai berikut.
a.Memberikan keterampilan dan pengetahuan kepada individu.
b.Mengembangkan kemampuan seseorang untuk berkomunikasi secara efektif.
c.Membantu seseorang mengendalikan fungsi-fungsi organik melalui latihan-latihan mawas diri yang tepat.
d.Menanamkan kepada seseorang nilai-nilai dan kepercayaan pokok yang ada pada masyarakat.
3.Menurut George Herbert Mead, tahap-tahap sosialisasi yang harus dilewati
seseorang sebagai berikut.
a.Tahap persiapan (Prepatory Stage)
b.Tahap meniru (Play Stage)
c.Tahap siap bertindak (Game Stage)
d.Tahap penerimaan norma kolektif (Generalized Other)
4.Fungsi sosialisasi dalam lingkunganmasyarakat ada dua, yaitu sebagai
berikut.
a.Membedakan individu agar dapat mengenal, mengakui, dan menyesuaikan diri dengan nilai-nilai, norma-norma, dan struktur sosial yang ada di dalamnya.
b.Sebagai alat pelestarian, penyebarluasan, dan pewarisan nilai-nilai norma-norma yang ada dalam ma-
syarakat, supaya tetap ada dan terpelihara oleh anggota masyarakat.
5.Media sosialisasi atau agen sosialisasi, antara lain keluarga, teman sepermainan, sekolah, lingkungan kerja, dan media massa.
6.Kepribadian (personality) adalah ciri-ciri dan sifat khas yang mewakili sikap atau tabiat seseorang yang mencakup pola-pola pemikiran dan perasaan, konsep diri, perangai, mentalitas yang umumnya sejalan dengan kebiasaan umum.
7.Unsur-unsur kepribadian terdiri atas pengetahuan, perasaan, dan dorongan naluri.
8.Menurut Sigmund Freud, kepribadian terdiri atas Id, Ego, Super ego.
9.Faktor-faktor pembentukan kepribadian, terdiri atas:
a.faktor keturunan (heredity)/warisan biologis;
b.faktor lingkungan alam (natural environment);
c.faktor sosial (social heritage);
d.faktor kelompok manusia (group).





1.Penyimpangan sosial adalah perilaku yang tidak sesuai dengan aturan (norma) yang berlaku.
2.Ciri-ciri penyimpangan sosial antara lain, penyimpangan harus dapat didefinisikan, penyimpangan bisa ditolak bisajuga diterima, penyimpangan relatif dan penyimpangan mutlak, penyimpangan terhadap budaya nyata ataukah budaya ideal, terdapat norma-norma penghindaran, dan penyimpangan sosial bersifatadaptif.
nilai dan norma yang berlaku di masyarakat, mencegah terjadinya penyimpangan, mengembangkan budaya malu, dan menciptakan sistem hukum.
6.Sifat-sifat pengendalian sosial terdiri dari sifat preventif dan sifat represif.
7.Jenis-jenis pengendalian sosial yang terjadi di masyarakat antara lain: gosipatau desas-desus, teguran, p endidikan, agama, dan hukuman.
8.Cara-cara pengendalian sosial terdiri atas cara persuasif dan cara koersif.
9.Jenis-jenis lembaga yang melakukan pengendalian sosial antara lain polisi, pengadilan, adat, dan tokoh masyarakat.
3.Bentuk-bentuk penyimpangan sosial
dibedakan menjadi dua, yaitu bentuk
penyimpangan berdasarkan sifat yang
terdiri atas penyimpangan positif dan
negatif, dan bentuk penyimpangan
berdasarkan pelakunya (individu dan
kelompok).
4.Pengendalian sosial adalah proses yang
digunakan oleh seseorang atau ke-
lompok untuk memengaruhi, mengajak,
bahkan memaksa individu atau
masyarakat agar berperilaku sesuai
dengan norma dan nilai-nilai yang
berlaku di masyarakat, sehingga ter-
cipta ketertiban di masyarakat.
5.Tujuan/fungsi pengendalian sosial antara
lain: agar masyarakat menjalankan nilai







B. Perilaku menyimpang
Perilaku menyimpang adalah semua tindakan yang menyimpang dari norma-norma yang berlaku dalam suatu sistem sosial dan menimbulkan usaha dari mereka yang berwenang dalam sistem itu untuk memperbaiki perilaku yang menyimpang tersebut. Perilaku menyimpang ditentukan batasannya oleh norma-norma kemasyarakatan yang berlaku dalam suatu budaya sehingga pengertian perilaku menyimpang berbeda-beda di setiap masyarakat.
Ada dua proses pembentukan perilaku menyimpang yaitu:
1. Penyimpangan sebagai hasil sosialisasi dari nilai-nilai subkebudayaan menyimpang
Perilaku menyimpang bersumber pada pergaulan yang berbeda. Pergaulan dengan kawan yang kurang baik mengakibatkan perilaku menyimpang
2. Penyimpangan dari sosialisasi yang tidak sempurna
Proses ini terjadi karena nilai dan norma yang dipelajari kurang dapat dipahami dalam proses sosialisasi sehingga orang tidak mempertimbangkan resiko dan melakukan penyimpangan

B. Bentuk-Bentuk Penyimpangan
Perilaku menyimpang dibedakan menjadi dua yaitu:
1. perilaku menyimpang primer, bersifat sementara dan masyarakat masih bisa menerima
2. perilaku menyimpang sekunder, secara khas dilakukan secara terus-menerus sehingga menjadi dominan dalam kehidupan pelaku dan dikenal umum oleh masyarakat

Robert M.Z Lawang mengemukakan macam penyimpangan yaitu:
1. Perilaku menyimpang yang dianggap sebagai kejahatan atau kriminal
2. Penyimpangan seksual
3. Penyimpangan dalam bentuk gaya hidup, misalnya penjudi, pemabok
4. Penyimpangan dalam bentuk konsumsi yang berlebih, misalnya alkoholisme
Light, Keller dan Calhoun membedakan tipe kejahatan menjadi:
1. Kejahatan tanpa korban, misalnya konsumsi narkoba
2. Kejahatan terorganisir, misalnya perdagangan perempuan, sindikat, mafia peradilan
3. Kejahatan kerah putih, yaitu kejahatan yang dilakuakn oleh orang yang memiliki kedudukan dan pengetahuan tinggi, misalnya penghindaran pajak, penggelapan uang perusahaan, korupsi
4. Kejahatan koorporat, yaitu kejahatan yang dilakukan atas nama perusahaan yang bertujuan menaikkan keuntungan atau menekan kerugian, misalnya pembuangan limbah di laut, kejahatan terhadap konsumen
Berdasarkan banyaknya pelaku penyimpangan dibedakan menjadi:
1. penyimpangan individual
2. penyimpangan kelompok
3. penyimpangan campuran

C. Teori-teori Perilaku Menyimpang
Teori Differential Association (kelompok yang berbeda) oleh Edward H. Sutherland
Sutherland memandang bahwa perilaku menyimpang bersumber dari pergaulan yang berbeda, artinya seorang individu mempelajari perilaku menyimpang dari interaksinya dengan seorang individu yang berbeda latar belakang asal, kelompok dan budaya. Misalnya seseorang yang ingin berprofesi sebagai perampok maka ia mempelajari (berinteraksi) cara-cara merampok dengan teman-temannya yang terlebih dahulu jadi perampok

Teori Labelling dari Edwin M. Lemert
Menurut teori ini seseorang menjadi menyimpang karena proses labelling berupa julukan, cap atau etiket yang ditujukan pada seseorang oleh masyarakat. Mula-mula sifat penyimpangannya primer, tetapi adanya julukan membuat pelaku mengidentifikasi dirinya sesuai dengan julukan tersebut.

Teori Psikologi dari Sigmud Freud
Perilaku menyimpang terjadi karena id tidak bisa dikendalikan oleh ego yang seharusnya dominan maupun superego yang tidak aktif. Id adalah bagian diri yang tidak sadar atau naluri, ego adalah bagian diri yang bersifat sadar dan rasional. Superego adalah bagian diri yang telah menyerap nilai dan norma dan berfungsi sebagai suara hati

Teori Fungsi dari Emile Durkheim
Menyatakan bahwa tercapainya kesadaran moral dari semua anggota masyarakat karena faktor keturunan, perbedaan lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Artinya kejahatan itu selalu ada, sebab orang yang berwatak jahat pun akan selalu ada. Bahkan Durkheim berpangan bahwa kejahatan itu perlu agar moralitas dan hukum dapat berkembang secara normal

D. Sebab-sebab Perilaku Menyimpang
1. sikap mental yang tidak sehat
2. keluarga yang broken home
3. pelampiasan rasa kecewa
4. pengaruh lingkungan dan media massa
5. dorongan kebutuhan ekonomi
6. keinginan untuk dipuji atau gaya-gayaan
7. proses belajar yang menyimpang
8. ketidaksanggupan menyerap norma budaya
9. adanya ikatan sosial yang berlebihan
10. akibat proses sosialisasi nilai-nilai subkebudayaan menyimpang
11. akibat kegagalan dalam proses sosialisasi
Media pembentukan perilaku menyimpang dapat diperoleh melalui keluarga, lingkungan tempat tinggal, kelompok bermain dan media massa

C. Pengendalian Sosial
Pengendalian Sosial (social control) adalah segenap cara dan proses pengawasan yang direncanakan atau tidak direncanakan, yang bertujuan untuk mengajak, mendidik, atau bahkan memaksa warga masyarakat agar mematuhi norma dan nilai yang berlaku

Sifat-sifat Pengendalian Sosial
Dilihat dari waktu pelaksanaannya
1. prevantif (pencegahan)
2. represif (memperbaiki)
3. dan gabungan
Dilihat dari jumlah cakupan yang terlibat
1. pengawasan dari individu terhadap individu lain
2. pengawasan dari individu terhadap kelompok
3. pengawasan dari kelompok terhadap kelompok
4. pengawasan dari kelompok terhadap individu
Dilihat dari aspek pelaksanaannya
1. Persuasif (tanpa kekerasan)
2. Coersif (paksaan)
3. Kompulsif, yaitu menciptakan suatu situasi yang dapat mengubah sikap atau perilaku yang negatif dan seseorang terpaksa taat dari situasi yang sengaja diciptakan pengendali
4. Pervasi yaitu nilai dan norma disampaikan atau dimasukkan secara berulang-ulang dan terus menerus dengan harapan akan melekat dalam jiwa seseorang sehingga akan terbentuk sikap yang diharapkan

Bentuk-bentuk pengendalian sosial
1. cemooh 6. pendidikan
2. desas desus 7. agama
3. ostrasisme (pengucilan) 8. intimidasi
4. fraundulens (pihak ketiga) 9. kekerasan fisik
5. teguran 10. hukuman

Fungsi Pengendalian Sosial
1. Mempertebal keyakinan masyarakat tentang kebaikan norma
2. Memberikan imbalan kepada warga yang mentaati norma
3. Mengembangkan rasa malu
4. Mengembangkan rasa takut
5. Menciptakan sistem hukum
Pengendalian sosial dapat dilaksanakan melalui
1. Sosialisasi
Sosialisai dilakukan agar anggota masyarakat bertingkah laku seperti yang diharapkan tanpa melalui jalur formal dan informal
2. Tekanan Sosial
Tekanan Sosial perlu dilakukan agar masyarakat sada dan mau menyesuaikan diri dengan aturan kelompok. Masyarakat dapat memberikan sanksi terhadap individu yang melanggar aturan kelompok

Peranan Pranata Sosial paksaan.
Usaha penanaman pengetian tentang nilai dan norma kepada anggota masyarakat diberikan dalam Pengendalian Sosial :
1. Polisi
Polisi merupakan salah satu pranata sosial yang bertugas menjaga keamanan dan ketertiban
2. Pengadilan
Unsur pengadilan terdiri dari hakim, jaksa, panitera, pengacara dan polisi
Unsur-unsur tersebut bertugas menyelenggarakan pengadilan terhadap individu yang melanggara norma hukum yang berlaku
3. Adat
Adat merupakan tata kelakuan yang kuat sehingga merupakan hukum non formal bagi masyarakat. Ketika terjadi pelanggaran terhadap adat maka masyarakat akan memberikan cemooh, gunjingan hingga pengucilan
4. Tokoh Masyarakat
Tokoh masyarakat adalah seseorang yang dianggap mempunyai kelebihan tertentu dan menjadi penuntun di masyarakat sekitarnya
5. Sekolah
Sekolah merupakan cara pengendalian yang efektif karena merupakan media sosialisasi yaitu wadah pembelajaran siswa dalam bertingkahlaku. Di sekekolah siswa dapat melakukan pembiasaan dan tersistimatis. Adapun pelaksanaannya juga terprogram menurut kurikulum tertentu
6. Keluarga
Keluarga merupakan lembaga pengendalian secara non formal dan keluarga juga merupakan media sosialisasi. Dalam keluarga orang tua mengendalikan perilaku anak-anaknya agar sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku dengan cara mendidik, mensosialisasi, menasehati, menegur dan bahkan menghukum agar anak kembali mematuhi nilai dan norma yang berlaku

Saturday, 26 November 2011

National Museum (Elephant Museum)

National Museum of the Republic of Indonesia or the Elephant Museum, is a museum located in Central Jakarta, precisely at Jalan Merdeka 12. National Museum of the Republic of Indonesia is one exaple of manifestation of European influence, especially the spirit of the Enlightenment, which appears at about age 18. This building was built in 1862 by the Dutch Government under the Governor-General JCM Radermacher as a response to the association Bataviaasch Genootschap Kunsten van en Wetenschappen aimed reviewing scientific research in the Netherlands Indies. The museum was inaugurated in 1868, but the embryo of the Museum as an institution was born in 1778, precisely on 24 April, at the time of formation Bataviaasch Kunsten Genootschap van en Wetenschappen by the Dutch government. Radermacher donate a building located at Jalan Kalibesar along with a collection of books and cultural objects that form the basis for the establishment of the museum. In the reign of England under the leadership of Sir Thomas Stamford Raffles (1811-1816), who also serves as Director of Bataviaasch Genootschap Kunsten van en Wetenschappen ordered the construction of a new building located on Jalan Majapahit 3. 
This building was used as a museum and meeting rooms for the Literary Society (formerly called "Societeit de Harmonie".) This building is now located at the State Secretariat complex. In 1862, after the collection meet museum at Jalan Majapahit, the Dutch East Indies government established a new building located at 12 West Independence Way. This building was opened to the public in 1868. The National Museum is known as Museum Gajah since a bronze statue of an elephant by King Chulalongkorn of Thailand was gifted in 1871. But on May 28, 1979, the name officially became the National Museum of the Republic of Indonesia. Then on 17 September 1962, the Cultural Institute of Indonesia who managed, submitting to the government of the Republic of Indonesia Museum. Since then it was managed by the Directorate General of History and Archaeology, under the Ministry of Education and Culture. But starting in 2005, the National Museum was managed the Ministry of Culture and Tourism. Based on the website of the National Museum of the Republic of Indonesia in 2001 showed that the collection has reached 109,342 pieces.The number of collections that make this museum is known as the most comprehensive in Indonesia. In 2006 the number had exceeded 140,000 collections of fruit, but only a third that can be shown to the audience. 

BADIK

Badik is a dagger or knife with a typical form developed by the Bugis and Makassar. Dagger sharp single or double sided, with a length reaching about half a meter. Like kris, asymmetrical shape and the blade often decorated with prestige. However, different from the dagger, the dagger never had marijuana (buffer strip).
Bugis community
In the view of the Bugis Makassar, every type of dagger has magic powers (magic). These forces may affect the conditions, circumstances, and the life process owners. Correspondingly, there is a belief that the dagger is also capable of causing tranquility, peace, welfare and prosperity or misery, poverty and suffering for the store.
Since hundreds of years ago, the dagger is used not only as a weapon for self-defense and hunting but also as the identity of an ethnic group or culture. This dagger is not only famous in Makassar area, but also of the region, Bugis and Mandar with different names and forms.
In general badik consists of three parts, namely upstream (the handle) and blade (iron), as well as a complement is a dagger sheath or scabbard. In addition, there is also the prestige that is believed to affect the lives of their owners.
Badik Makassar
Badik Makassar has kale (blades) are flat, battang (stomach) distended and sharp and cappa '(tip) is tapered. This dagger is shaped like a dagger called Sari. Badik Sari is made up of pangulu (dagger handles), sumpa 'kale (body dagger) and banoang (dagger sheath). Other Bugis Makassar others also, in this area called kawali dagger, like Kawali King (Bone) and Kawali hornbills (Luwu).
Badik Bugis Luwu
Bone dagger Kawali Bugis has bessi or a flat blade, pointed tip and forms a little wide in the end, while kawali Luwu have bessi shaped flat and straight. Kawali also have the parts, such as pangulu (upstream), bessi (bars) and Wanua (sarong). As in other traditional weapons, kawali also believed to have magic powers, whether it can bring fortune or misfortune.
Kawali Lamalomo Sugi is a type of dagger motif that has hooks on the blade and is believed to be a weapon that will provide wealth for their owners. Meanwhile, kawali Lataring Tellu which has a three-node motifs in the position of the furnace is believed to bring luck to its owner will be no shortage of food and will not experience the agony of grief. That is why, the dagger is most suitable for those who seek in the agricultural sector.
Badik Caringin Tilu
Bone dagger Kawali Bugis has bessi or a flat blade, pointed tip and forms a little wide in the end, while kawali Luwu have bessi shaped flat and straight. Kawali also have the parts, such as pangulu (upstream), bessi (bars) and Wanua (sarong). As in other traditional weapons, kawali also believed to have magic powers, whether it can bring fortune or misfortune. Kawali Lamalomo Sugi is a type of dagger motif that has hooks on the blade and is believed to be a weapon that will provide wealth for their owners. Meanwhile, kawali Lataring Tellu which has a three-node motifs in the position of the furnace is believed to bring luck to its owner will be no shortage of food and will not experience the agony of grief. That is why, the dagger is most suitable for those who seek in the sector pertanian.Kawali Lade 'nateyai have the prestige of a small circle at the base and wrinkles lined up on the eyes. This dagger is believed to bring sustenance in abundance for the owner. This dagger has a similarity function with Kawali Lakadang that have shaped motif gala at pangkalnya.Salah one dagger is believed to be ideal Kawali Lagemme 'Silampa which has a motive in the form of veins extending from base to tip. It is believed that the owner of the dagger is always going to get the safety and welfare of her life along with all the relatives. Meanwhile, to get the patience, it is believed to have Kawali Lasabbara.Kawali Ilakkoajang is a type of dagger is believed to be the weapon that can bring prestige and the degree that it has a motive tinggi.Badik scratches all over his body. Meanwhile, for those who want a victory in every fight should have Kawali Latenriwale. Dagger that has a motive in the form of oval spots on the edges is believed to awaken the properties never retreat for its owners in every pertempuran.Bila believed there dagger contain goodness, so was the opposite there is a dagger that contain bad luck. Kawali Lasukku badik Ja'na is considered very bad. For anyone, Kawali Latemmewa is a dagger that is not good, because this dagger can not be trusted to maintain dignity and honor of their owners. According to belief, the owner of this dagger will not take the fight despite being slapped by lain.Sejalan people with these beliefs, there is Kawali Lamalomo Malaweng Tappi'enngi who have a stroke arrow motif on the base. Trust, the owner of this dagger is often involved in fornication. This dagger has a trust as opposed to Kawali Lamalomo Rialawengeng. The story goes like this dagger owners often his wife committing adultery with a man who believed lain.Apapun magic powers contained by a dagger, the dagger remains a cultural object that will improve a person's identity, especially for men. As they say about badik Makassar "Teyai bura'ne Punna ammallaki badik Tena" (It's not a man if you do not have a dagger), as well as with the word Bugis "Taniya Ugi narekko de'na punnai kawali" (Not a Bugis if it does not have a dagger) .



Saturday, 19 November 2011

Dua tahun yang tak terlupakan

 
             Nama saya Arif Budi Pracasta saya siswa SMA Labschool Kebayoran saya duduk di kelas XII IPA 2 saya sudah 2 tahun lebih berada di SMA Labschool Kebayoran. Banyak kenangan-kenangan selama saya di  SMA Labschol Kebayoran ini mulai dari menyenangkan, menyedihkan, mengharukan dan banyak sekali pengalaman-pengalaman lainnya.
Pada saat hari pertama saya masuk Labschool Kebayoran saya merasa banyak sekali perbedaan Labschool Kebayoran dengan SMP saya dulu yaitu Al-Azhar  Kemang, mulai dari jumlah siswanya saya di SMP Al-Azhar kemang hanya terdiri dari 60 siswa sedangkan di Labschool Kebayoran terdiri dari 180 lebih siswanya. Perbedaan lainnya  yaitu pada tradisi-tradisinya pada awalnya saya merasa aneh dengan perbedaan-perbedaan ini, tapi semakin lama terbiasa.
            Pada hari pertama saya masuk Labschool Kebayoran yaitu Masa Orientasi Siswa (MOS) dimana di SMP saya dulu tidak ada.MOS ini merupakan kegiatan pengenalan pada murid-murid baru Labschool Kebayoran untuk dapat beradaptasi pada lingkungan Labschool Kebayoran. Sebelum masuk ke kegiatan MOS-nya ada Pra MOS pada saat ini peserta di beritahu ketentuan-ketentuan dan kegiatan yang harus dijalani selama MOS berlangsung. Ketentuan dan kegiatan yang harus dijalani, yaitu membuat nametag, mencukur rambut dengan ketentuan sepatu satu dimana sepatu satu itu berarti botak, Foto dengan gaya yang aneh, membawa makanan yang sudah disuruh, dan lari pagi dimana peserta MOS harus datang pada jam 5.30 dan lari pada rute yang sudah ditentukn. Pada saat MOS saya merasa sangat letih dan kesal sekali karena banyak sekali yang harus dikerjakan mulai dari pembuatan name tag yang diulang-ulang, membawa makanan yang sudah disuruh dan kegiatan-kegiatan lainnya.Kegiatan-kegiatan pada saat MOS diatur oleh OSIS, OSIS di Labschool Kebayoran ini sangat aktif dibandingkan di SMP saya dulu terdapat OSIS tapi tidak seaktif di Labschool Kebayoran karena saya melihat kakak-kakak OSIS ini saya menjadi tertarik untuk menjadi pengurus OSIS seperti mereka. Tiga hari pada saat MOS terasa sangat lama sekali.
            Setelah MOS selesai murid-murid dibagikan perkelas-kelas, pada saat itu saya mendapatkan kelas X-C . Di kelas X-C ini saya mempunyai wali kelas bernama Pak Suhartanto biasanya dipanggil Pak Tanto, dia adalah guru pengajar TIK. Pada awalnya saya masuk kelas ini saya belum kenal siapa-siapa hanya beberapa orang yang berasal dari SD Al-Azhar Kemang. Kelas X-C ini didominasi oleh anak-anak yang berasal dari SMP Labschool Kebayoran jadi biasanya mereka bermain dengan SMP Labschool Kebayoran juga, tapi semakin lama kita saling mengenal satu sama lain dan kelas ini semakin menyenangkan.
            Di Labschool Kebayoran ini terdapat kegiatan yang dinamakan Expo Ekskul, Expo Ekskul merupakan kegiatan dimana masing-masing ekskul memerkan ekskul mereka dan kita diwajibkan untuk memilih satu ekskul. Pada saat itu ada sebuah komunitas di Labschool yang bernama LAMURU, yaitu Labsky Community Drum saya sangat tertarik pada saat melihat LAMURU melakukan sebuah pertunjukan kemudian saya tidak berpikir lama dan akhirnya saya masuk menjadi anggota LAMURU ini. Ternyata LAMURU bukan merupakan ekskul melainkan suatu komunitas dan akhirnya saya memilih CD-ROOM yang merupakan ekskul yang berhubungan dengan komputer dengan tujuan saya bisa focus di LAMURU dan meninggalkan CD-ROOM. Tetapi pada akhirnya saya meninggalkan CD-ROOM karena bosan dan saya memilih mengikuti ekskul Rugby.
            Kemudian pada saat Bulan Ramadhan murid-murid kelas X diwajibkan untuk ikut kegiatan Pesantren Kilat Ramadhan atau disebut PILAR kegiatan ini dilakukan selama 3 hari 2 malam yang bertempat di Labschool Kebayoran. Kegiatan ini merupakan kegiatan Islami dimana kita diberikan materi-materi yang berkaitan tentang Islami. Kegiatan ini cukup membosankan bagi saya karena selama 3 hari kita hanya duduk dan mendengarkan materi-materi yang di berikan oleh pembicara. Pada hari kedua ada kegiatan yang tidak membosankan yaitu Outbound, di kegiatan ini kita harus mengumpulkan poin-poin agar kita bisa mendapatkan makanan besar pada saat berbuka nanti. Setelah 3 hari lamanya akhirnya kegiatan ini selesai. Setelah itu kita kembali bersekolah seperti biasa.
            Pada bulan Oktober diadakan kegiatan yang wajib diikuti oleh murid kelas X Labschool Kebayoran, yaitu Trip Observasi (TO) inti darikegiatan ini adalah kegiatan dimana kita mengobservasi sebuah desa dengan judul yang telah ditentukan dan kita wajib mempresentasikannya. Sebelum kita melakukan TO kita mengikuti Pra TO. Pra TO merupakan kegiatan untuk mempersiapkan fisik dan mental kita pada saat TO nanti, Pra TO ini dilakukan seminggu sebelum kita melaksanakan TO. Pra TO dilakukan selama 3 hari.
            Pada saat Pra TO kita dibimbing oleh kakak-kakak OSIS. Di Pra TO ini kita diwajibkan untuk botak lagi dan lagi-lagi membuat nametag yang sangat susah dan selain itu kita juga harus membuat tongkat angkatan kita dengan model yang telah ditentukan. Setiap harinya kita harus lari pagi dengan rute yang semakin hari semakin panjang agar fisik kita kuat. Pada saat pra TO kita hanya dibentak-bentak tiap harinya untuk melatih mental kita agar siap, disaat Pra TO ini kita dianggap selalu salah. Pada saat Pra TO ini ada kegiatan yang bernama siaga tongkat dimana peserta harus menahan tongkat agar tidak diambil oleh kakak osisnya, Karena tongkat angkatan kita di andaikan sebagai harga diri kita. Pada saat Pra TO ini juga kita mempunyai ketua angkatan dan nama angkatan, yaitu Nawa Drastha Sandyadhira. Tujuan daripada Pra TO ini untuk mengompakan angkatan kita agar tidak terpecah-pecah.
            Seminggu setelah Pra TO diadakanlah TO, TO diadakan di Pasir Muncang di daerah Purwakarta. Peserta berangkat dari sekolah sekitar jam 6, perjalanan menuju Pasir Muncang lumayan lama setelah sampai di daerah Pasir Muncang kita harus berjalan untuk mencapai ke pedesaannya dan kita ditunjukan ke rumah-rumah yang akan menjadi tempat kita tinggal selama 5 hari. Setelah sampai kita diberi waktu untuk istirahat sebentar dan setelah itu kegiatan kita adalah membantu kegiatan yang dilakukan oleh pemilik rumah atau disebut orangtua asuh, kebetulan bapak asuh saya adalah seorang petani jadi saya dan teman-teman sekelompok saya mengikuti ke sawah dan membantu bapak untuk membajak sawah.
            Pada saat TO ini kita harus berlomba untuk menjadi kelompok yang terbaik dengan cara mengumpulkan pita hijau yang didapatkan dengan cara meminta kepada kakak OSIS dan biasanya kakak OSIS menyuruh kita sesuatu dan bila senang mereka akan memberikan pita hijau dan bila kita melakukan kesalahan kita akan mendapatkan pita kuning. Pada saat malamnya kita harus mendirikan tongkat ketua kelompok kita yang terdapat fendelnya dan setiap kelompok harus ada dua anggotanya yang bangun untuk membalas sinyal yang diberikan oleh kakak OSIS dengan senter, bila kita salah membalasnya kita akan mendapatkan pita kuning dan hasilnya pada pagi hari kelompok saya mendapatkan banyak sekali pita kuning.
            Pada saat TO ini ada juga kegiatan yang bernama Penjelajahan jadi kita menjelajah hutan di sekita pedesaan tersebut dengan rute yang harus diikuti dan terdapat pos-pos tiap seksi OSIS yang harus kita lewati, tiap-tiap pos mempunyai tugas-tugas yang berbeda. Penjelajahan ini berakhir pada sebuah curug untuk membersihkan dan menyegarkan badan kita dari kotoran-kotoran selama perjalanan dan kita kembali lagi ke tempat tinggal kita. Selanjutnya pada malam hari terakhir kita di lokasi TO kita berkumpul di sebuah api unggun dan kita bernyanyi bersama di malam terakhir yang indah di Pasir Muncang. Pada pagi harinya saya mengemas barang-barang saya untuk pulang ke Jakarta.
            Setelah itu pada akhir tahun pelajaran diadakan LAPINSI yang merupakan kegiatan yang wajib diikuti bagi orang-orang yang ingin menjadi OSIS disini kita diberikan materi-materi tentang kepemimpinan dan kerjasama tim yang baik. Kegiatan ini hanya dilakukan selama 2 hari, kegiatan ini tidak seberat dibandingkan kegiatan lainnya. Setelah LAPINSI diadakanlah Tes Potensi Organisasi (TPO) kegiatan ini diadakan untuk menyaring murid-murid yang ingin menjadi OSIS.
            Kemudian diadakanlah BINTAMA adalah kegiatan yang melatih mental, kepemimpinan, kedisiplinan, serta kemandirian. Untuk mengikuti kegiatan ini kita harus botak lagi dan lagi. Kegiatan ini diadakan selama 6 hari yang bertempat di Serang, Banten yang merupakan Markas Kopassus. Kegiatan ini sangatlah membuat lelah selama 6 hari fisik kita sangat di gempur disini. Setelah kegiatan ini selesai dilanjutkan dengan pengumuman hasil TPO dan ternyata saya bisa menjadi OSIS. Dan di OSIS saya mendapatkan posisi di seksi Bela Negara biasanya orang-orang menyebut BN. Selain itu berita yang menggembirakan saya memenuhi syarat untuk melanjutkan ke XI IPA.
            Pada saat kelas XI IPA saya mendapatkan kelas XI IPA 3 yang dibimbing oleh wali kelas, yaitu Bapak Edy Rufianto. Kata orang-orang kelas XI ini adalah waktunya kita untuk menikmati SMA, tetapi faktanya tidak juga di kelas XI ini merupakan waktu yang sangat sibuk. Karena saya menjadi OSIS saya harus membimbing adik kelas saya pada saat Pra TO, TO dan Bintama, selain itu pada saat kelas XI ini merupakan waktu sibuk-sibuknya untuk LAMURU tetapi saya menjalani semua ini dengan senang dan tanpa beban dan alhasil pada saat kelas XI saya selalu medapatkan peringkat yang dibawah. Selain itu ada kegiatan besar di Labschool Kebayoran adalah Sky Battle dan Sky Avenue. Sky Battle merupakan kegiatan kompetisi antar-SMA di beberapa cabang olahraga dan Sky Avenue adalah kegiatan Pentas Seni dari Labschool Kebayoran.
            Dan inilah beberapa kenangan yang ada di benak saya selama 2 tahun saya berada di Labschool Kebayoran. Sekarang saya sudah duduk di kelas XII sekarang saatnya saya untuk berjuang dalam UAN dan mendapatkan Perguruan Tinggi Negeri yang baik